SD Sukasarana Cipanas Tumbuhkan Budaya Peduli Sampah, Guru dan Murid Bergerak Setiap Jumat

SD Sukasarana Cipanas Tumbuhkan Budaya Peduli Sampah, Guru dan Murid Bergerak Setiap Jumat
Melalui agenda rutin "Jumat Bersih", seluruh guru dan murid di sekolah mulai membudayakan pemilahan sampah serta merawat ekosistem sekolah.(istimewa)

CIANJUREKSPRES.ID – Pendidikan lingkungan hidup tidak selalu harus bermula dari proyek berskala besar. Langkah nyata yang konsisten dari kebiasaan kecil terbukti mampu membangun kepedulian generasi muda sejak dini. Semangat inilah yang terpancar dalam aksi nyata di SD Sukasarana, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jumat (30/10/2026).

Melalui agenda rutin “Jumat Bersih”, seluruh guru dan murid di sekolah tersebut mulai membudayakan pemilahan sampah serta merawat ekosistem sekolah. Aksi ini menjadi pemantik utama dalam menciptakan budaya sekolah yang lebih bersih, sehat, dan berwawasan lingkungan.

Sekolah mengambil langkah konkret dengan menempatkan wadah ecobrick berbahan galon bekas di setiap ruang kelas dan berbagai sudut strategis. Selain itu, sebuah area khusus di pojok sekolah juga disediakan guna menampung sampah plastik bernilai guna tinggi (high-value plastic).

Tidak sekadar mengelola limbah, SD Sukasarana juga menyulap lahan kosong menjadi taman ramah anak yang ditanami aneka tanaman apotek hidup serta kebutuhan dapur. Taman edukasi ini difungsikan sebagai ruang belajar terbuka agar murid dapat langsung mengenali manfaat tanaman bagi kehidupan sehari-hari.

Peran Guru Sebagai Penggerak

Keberhasilan transformasi di SD Sukasarana tidak lepas dari ketekunan dan keterlibatan aktif para guru. Melalui aksi nyata di luar kelas, guru bertindak sebagai penggerak perubahan yang membimbing anak didik agar paham bahwa sebagian bahan bekas masih memiliki nilai guna ekonomi dan ekologi melalui pemilahan yang tepat.

Sinergi Komunitas dan Desa

Gerakan mandiri ini mendapat apresiasi dan pengawalan langsung dari Koordinator Sub DAS Cikundul, Herry Trijoko. Pihaknya menegaskan bahwa Komite Sub DAS Cikundul memosisikan diri sebagai pendamping yang siap mengasuh dan memberikan dukungan teknis agar inisiatif para pendidik ini dapat tumbuh subur sesuai potensi sekolah.

“Kami dari Komite Sub DAS Cikundul sangat menyambut baik inisiatif mandiri ini. Tugas kami adalah mendampingi dan memberikan ruang bagi sekolah agar program ini tumbuh alami sesuai kebutuhan mereka. Guru dan murid adalah motor utamanya, sementara kami dan pihak desa hadir untuk memastikan roda pergerakan ini terus berputar dan berkelanjutan,” ujar Herry Trijoko dalam keterangan tertulisnya.

Dukungan serupa juga datang dari Pemerintah Desa Sindanglaya yang berkomitmen menjaga keberlanjutan program edukasi ini. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai krusial agar kebiasaan baik yang ditempa di sekolah dapat menular ke lingkungan keluarga dan masyarakat luas.

Menjaga Ruang Hidup DAS Citarum

Secara geografis, aksi kecil di SD Sukasarana ini memegang peranan penting bagi kesehatan lingkungan yang lebih luas, khususnya pada kawasan Mikro DAS Cisarua, Sub DAS Cikundul, hingga bermuara ke DAS Citarum. Sampah yang tidak dikelola sejak dari sumbernya berpotensi besar hanyut ke saluran air dan mencemari ekosistem sungai.

“Membangun kebiasaan memilah sampah dari bangku sekolah adalah hulu dari penyelamatan ekosistem sungai kita. Jika sampah tertahan di sini, kita telah memotong potensi pencemaran di Sub DAS Cikundul hingga ke DAS Citarum. Langkah kecil di sekolah ini adalah sumbangsih nyata untuk penyehatan ruang hidup kita bersama,” pungkas Herry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *