Menu Variatif MBG SPPG Sukanagara 2, Disukai Anak dan Kurangi Limbah Makanan

Menu Variatif MBG SPPG Sukanagara 2, Disukai Anak dan Kurangi Limbah Makanan
Salah satu menu MBG variatif yang disajikan SPPG Sukanagara 2 yang mengganti nasi dengan roti sebagai sumber karbohidrat. (Foto: Dokumentasi SPPG Sukanagara 2)

CIANJUREKSPRES.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukanagara 2, Desa Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur berinovasi dengan penyajian sumber karbohidrat yang bervariasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tak hanya karbohidrat, SPPG Sukanagara 2 pun memberikan beragam pilihan sumber protein dan lemak bagi ribuan anak penerima manfaat.

Ahli Gizi SPPG Sukanagara 2, Nabila Nur Anisa mengatakan, kurang lebih 3.000 penerima manfaat mendapatkan makanan bergizi, namun dengan penyajian yang menarik dan enak dengan menu MBG yang variatif setiap harinya.

“Jadi anak-anak tidak melulu makan nasi sebagai sumber karbohidrat, tapi kita juga sediakan jagung, kentang, dan roti yang diolah sedemikian rupa agar menunya tidak itu-itu saja. Selain menarik, rasanya juga enak,” kata Nabila saat dihubungi Cianjur Ekspres, Selasa 13 Oktober 2026.

Jagung diolah dengan cara direbus dan dicampur dengan susu dan keju, sementara kentang disajikan setelah digoreng atau direbus atau yang biasa disebut potato wedges.

“Tetap penyajiannya harus sesuai dengan standar kebutuhan karbohidrat anak yang mengacu pada standar gizi yang diatur dalam Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Juknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program MBG Tahun 2026,” kata Nabila menjelaskan.

Diketahui, berdasarkan peraturan tersebut, maka siswa SD hingga SMA akan mendapatkan asupan karbohidrat dalam rentang 44,0-55,0 gram hingga 105,0-122,5 gram per anak. Perhitungan tersebut merupakan standar gizi MBG yang mengikuti Peraturan Kementerian Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019.

Selain itu, Nabila juga menyebutkan jika dengan menu variatif MBG dari SPPG Sukanagara 2, berhasil mengurangi jumlah limbah makanan di sekolah-sekolah.

“Dari evaluasi kita dalam beberapa pekan terakhir, menu karbohidrat yang variatif ini bisa diterima dengan baik oleh anak-anak penerima manfaat. Hal itu terlihat dari jumlah limbah makanan yang berkurang dari biasanya,” pungkas Nabila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *