Sekolah Maung SMAN 1 Cianjur Bidik Generasi Pemimpin dan Berwawasan Global

SMAN 1 Cianjur mulai mengembangkan konsep Sekolah Maung sebagai sekolah manusia unggul dengan menerapkan tiga domain kurikulum.(Foto : Cianjur Ekspres/Mochammad Nursidin)

CIANJUREKSPRES.ID – SMAN 1 Cianjur mulai mengembangkan konsep Sekolah Maung sebagai sekolah manusia unggul dengan menerapkan tiga domain kurikulum. Konsep tersebut memadukan kurikulum nasional plus, kurikulum Cambridge yang diadaptasi, serta kurikulum khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan potensi siswa.

Kepala SMAN 1 Cianjur, Dede Sadan Nurjaman, mengatakan, Sekolah Maung memiliki sejumlah kekhasan yang membedakannya dengan sekolah reguler. Tiga keunggulan utama yang dikembangkan yakni karakter leadership berbasis nilai Pancawaluya, perspektif global, serta pengembangan karier, talenta dan kesiapan melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia profesional.

“Yang pertama adalah karakter leadership atau kepemimpinan berbasis karakter Pancawaluya. Murid dikembangkan menjadi pribadi yang mampu memimpin dirinya sendiri dan lingkungannya,” kata Dede kepada Cianjur Ekspres, Kamis 8 Oktober 2026.

Menurutnya, kepemimpinan yang dikembangkan tidak hanya sebatas kemampuan mengelola organisasi. Namun, juga mencakup keimanan dan ketakwaan, keteladanan, integritas, tanggung jawab, akuntabilitas, disiplin, kepedulian, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja sama, pengelolaan diri, ketekunan hingga daya juang.

Sementara, perspektif global diarahkan agar siswa memiliki pola pikir terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa kehilangan identitas kebangsaan dan kearifan lokal. Salah satunya mulai diterapkan melalui program English Day, yang mendorong siswa menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah.

“Besok Senin kami akan launching English Day. Anak-anak berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, baik dengan teman di kelas, guru maupun caraka. Mudah-mudahan komunikasi anak-anak lebih bagus,” ujarnya.

Adapun aspek career, talent and university readiness diarahkan untuk mempersiapkan siswa menghadapi pendidikan lanjutan maupun dunia profesional. Pengembangannya mencakup potensi diri, bakat dan minat, kompetensi, perencanaan pendidikan, kesiapan akademik dan keterampilan, hingga pengenalan dunia kerja dan profesi.

Dede menjelaskan, kurikulum khusus dalam Sekolah Maung juga menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan minat, baik di bidang akademik maupun nonakademik, termasuk kepemimpinan dan hafiz Al-Qur’an. Proses pengembangan kepemimpinan dilakukan melalui kegiatan setelah jam belajar, seperti Pramuka wajib, OSIS, MPK dan ekstrakurikuler.

“Jadi dalam sekolah Maung, siswa yang masuk diarahkan memiliki bakat istimewa, prestasi akademik maupun nonakademik, kepemimpinan dan hafiz Qur’an,” katanya.

Dari sisi waktu belajar, SMAN 1 Cianjur juga mulai menerapkan pola full day school. Kegiatan belajar wajib berlangsung mulai pukul 06.30 hingga 15.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan organisasi maupun ekstrakurikuler. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa baru meninggalkan sekolah menjelang magrib.

Selain pembelajaran tatap muka, siswa juga mendapatkan akses pembelajaran digital melalui Learning Management System (LMS) Sekollah Edu. Platform tersebut dapat digunakan siswa untuk belajar mandiri, termasuk mengerjakan latihan TKA, soal UTBK serta mengakses berbagai video pembelajaran.

Dede menambahkan, Sekolah Maung juga diarahkan untuk meningkatkan peluang siswa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi luar negeri. Pihaknya menargetkan tiga persen lulusan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi luar negeri pada tahun ini. Target tersebut akan ditingkatkan menjadi lima persen pada 2028 dan 10 persen pada 2029.

“Kami berharap lulusan Maung bisa diterima di perguruan tinggi negeri maupun luar negeri,” ujarnya.

Di sisi lain, pengembangan Sekolah Maung menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi pembiayaan dan kesiapan sumber daya manusia. Menurut Dede, transformasi sekolah menuju model pendidikan yang lebih kompleks membutuhkan dukungan SDM yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan program.

“Tantangannya dari segi pembiayaan yang luar biasa, sehingga itu menjadi tantangan bagi kita. Tantangan berikutnya SDM. Tidak mudah mengubah sebuah lembaga pendidikan untuk bertransformasi ke tingkat yang lebih tinggi tanpa dukungan SDM,” katanya.

Karena itu, pihak sekolah terus mendorong peningkatan kapasitas guru melalui berbagai pelatihan. Di saat yang sama, siswa juga dituntut mampu mengikuti seluruh program Sekolah Maung dengan baik serta menjaga kesehatan agar dapat menjalani pola pembelajaran yang lebih padat.

Sekolah Maung tersebut ke depan diharapkan dapat menjadi salah satu model pengembangan pendidikan yang dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya di Kabupaten Cianjur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *