CIANJUREKSPRES.ID- Erik Setiawan, remaja berusia 14 tahun asal Kampung Cikaung RT 03/RW 04, Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, akhirnya dievakuasi dan dirujuk ke RSUD R. Syamsudin, S.H. atau RS Bunut Sukabumi pada Sabtu.
Erik sebelumnya didiagnosis mengalami tuberkulosis (TB) otak dan TB tulang. Kondisinya dilaporkan mengalami kelumpuhan sejak sekitar dua tahun terakhir dan terdapat luka yang cukup luas di sejumlah bagian tubuhnya.
Berdasarkan rekam medis, Erik sempat menjalani pengobatan di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung sekitar dua tahun lalu. Namun, pengobatan tersebut tidak sampai tuntas.
Informasi yang dihimpun dari warga menyebutkan, kondisi Erik sempat mengalami perkembangan dan membaik. Saat itu, Erik bahkan disebut sudah dapat menggunakan kursi roda dan masih melakukan aktivitas sederhana seperti bermain layang-layang.
Namun, pengobatan Erik kemudian tidak berlanjut. Keluarga sempat memilih pengobatan menggunakan herbal. Seiring waktu, kondisi Erik kembali memburuk hingga mengalami keterbatasan fisik yang cukup berat.
Upaya pengobatan juga sempat dilakukan dengan membawa Erik ke sejumlah fasilitas kesehatan. Namun, berdasarkan informasi keluarga, penanganan di beberapa rumah sakit belum dapat dilakukan secara optimal sehingga akhirnya Erik dibawa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di RSUD R. Syamsudin, S.H. (RS Bunut) Sukabumi.
Camat Cidaun, Gagan Rusganda, mengatakan proses penanganan Erik bermula dari laporan warga yang diterima pihak kecamatan. Setelah mendapatkan laporan tersebut, pihak kecamatan langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan serta pemerintah desa dan puskesmas.
“Begitu kami dapat laporan hari Kamis siang, saya langsung kontak Pak Sekdis Kesehatan Cianjur supaya penanganannya cepat. Besok paginya, tim puskesmas dan aparat desa langsung turun ke rumah pasien,” ujar Gagan.
Proses evakuasi Erik dari rumah menuju akses jalan utama juga tidak mudah. Rumah pasien berada di lokasi yang cukup pelosok sehingga ambulans tidak dapat langsung menjangkau kediamannya.
“Aksesnya itu cuma jalan lingkungan. Kita nggak berani bawa pakai motor, takut tulang atau badannya malah makin parah kalau kena guncangan. Jadi akhirnya kita gotong royong ditandu dulu dari rumah sampai ke jalan desa, baru setelah itu disambung pakai ambulans,” kata Gagan.
Sesampainya di Puskesmas Cidaun, petugas kemudian melakukan pemeriksaan administrasi dan mendapati adanya tunggakan iuran BPJS Kesehatan milik Erik. Kondisi tersebut membuat kepesertaan BPJS tidak dapat langsung digunakan untuk proses rujukan.
“Ada tunggakan BPJS sampai 1,6 tahun. Ya sudah, saat itu juga langsung kami bayarkan dan lunasi supaya kartunya aktif lagi dan Erik bisa segera ditangani,” tegas Gagan.
Selain memastikan proses rujukan berjalan, pihak kecamatan juga memperhatikan kondisi keluarga Erik. Ayah Erik diketahui membutuhkan biaya untuk mendampingi anaknya selama menjalani perawatan di rumah sakit.
“Bapaknya sempat bingung karena tidak punya bekal buat nungguin anaknya di rumah sakit. Makanya, kami bantu berikan dana tunggu awal,” ungkap Gagan.
Kini Erik telah dirujuk ke RS Bunut Sukabumi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut. Untuk membantu kebutuhan ayah Erik selama mendampingi proses pengobatan, Gagan mengaku telah berkoordinasi dengan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kecamatan Cidaun.
“Sekarang Erik sudah dirujuk ke RS Bunut Sukabumi. Nah, untuk bekal bapaknya selama di Sukabumi, saya juga sudah koordinasi dengan teman-teman UPZ Cidaun supaya terus dibantu dana tunggunya,” pungkasnya.
Penanganan terhadap Erik diharapkan dapat memberikan jalan bagi remaja tersebut untuk kembali mendapatkan perawatan medis yang berkelanjutan setelah sebelumnya sempat terhenti.












