75 Rumah Adat Sade Terbakar, Kerugian Kebakaran Capai Rp34 Miliar

75 Rumah Adat Sade Terbakar, Kerugian Kebakaran Capai Rp34 Miliar
75 Rumah Adat Sade Terbakar, Kerugian Kebakaran Capai Rp34 Miliar

CIANJUREKSPRES.ID- Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai Rp34 miliar. Kebakaran terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, dan menghanguskan puluhan rumah adat, bangunan penting, hingga tempat usaha masyarakat.

Berdasarkan pendataan dan penghitungan bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, pemerintah desa, serta aparat kepolisian, total kerugian sementara ditaksir mencapai Rp34 miliar.

Staf Ahli Bupati Lombok Tengah Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Lalu Sungkul, mengatakan nilai kerugian tersebut diperoleh setelah pemerintah bersama pihak terkait melakukan pendataan terhadap seluruh aset yang terdampak kebakaran.

“Jadi total kerugiannya setelah kita hitung bersama Pak Bupati, bersama kepala dusun, kepala desa di sini, Pak Kapolres. Dengan data-data yang ada kita totalkan itu di Rp34 miliar,” kata Sungkul, Selasa, 25 Agustus 2026.

Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari rumah warga. Sejumlah bangunan yang memiliki nilai sosial, ekonomi, keagamaan, dan budaya juga ikut terbakar.

Salah satu bangunan penting yang terdampak adalah Masjid Jami’ Sade. Masjid tersebut selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga digunakan warga untuk berkumpul dan berinteraksi dalam berbagai kegiatan keagamaan.

Kebakaran juga menghantam sektor ekonomi masyarakat. Sebanyak 69 unit art shop atau toko seni dilaporkan hangus terbakar. Toko-toko tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat adat Sade.

Berbagai produk kerajinan khas Lombok dijual di tempat tersebut, mulai dari kain tenun hingga pernak-pernik tradisional yang dibuat langsung oleh warga. Aktivitas perdagangan tersebut selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan yang datang ke Desa Adat Sade.

Dengan terbakarnya puluhan art shop, masyarakat tidak hanya kehilangan tempat usaha, tetapi juga barang dagangan yang menjadi sumber pendapatan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi dalam waktu yang cukup panjang bagi warga terdampak.

75 Rumah Adat Sasak Hangus

Dampak terbesar dari kebakaran tersebut terlihat dari rusaknya bangunan rumah adat. Sebanyak 75 unit rumah adat Sasak dilaporkan hangus terbakar.

Rumah adat memiliki nilai penting bagi masyarakat Sade karena menjadi bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Sasak. Bangunan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu daya tarik utama kawasan Desa Adat Sade sebagai destinasi wisata budaya.

Di antara rumah adat yang terbakar terdapat Bale Beleq. Bangunan berukuran besar tersebut memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat adat karena menyimpan sejumlah benda pusaka peninggalan leluhur masyarakat Sasak.

“Rumah adat termasuk Bale Beleq, merupakan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Sade yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Sungkul.

Bangunan lain yang turut terbakar adalah menara panggang yang secara lokal disebut Pelunggu.

Kebakaran tersebut dengan demikian tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga mengancam keberlangsungan sejumlah aset budaya masyarakat Sasak di Desa Adat Sade.

Hingga Selasa, 25 Agustus 2026, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Aparat berwenang masih melakukan penyelidikan untuk memastikan sumber api dan penyebab kebakaran dapat meluas.

Sempat muncul dugaan di tengah masyarakat bahwa kebakaran disebabkan korsleting atau hubungan arus pendek listrik. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil penyelidikan resmi.

Kebakaran Desa Adat Sade menjadi pukulan besar bagi masyarakat setempat. Selain kehilangan rumah dan sumber penghasilan, warga juga menghadapi kerusakan sejumlah bangunan yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Pemulihan kawasan nantinya tidak hanya membutuhkan pembangunan kembali rumah warga dan tempat usaha, tetapi juga upaya menjaga serta mengembalikan warisan budaya masyarakat Sasak yang menjadi identitas penting Desa Adat Sade.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *