Hotspot Karhutla Kalimantan Melonjak, 12.880 Personel Dikerahkan

Hotspot Karhutla Kalimantan Melonjak, 12.880 Personel Dikerahkan
Hotspot Karhutla Kalimantan Melonjak, 12.880 Personel Dikerahkan

CIANJUREKSPRES.ID– Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menyusul lonjakan titik panas atau hotspot dalam beberapa hari terakhir.

Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menjadi tiga wilayah yang mendapat perhatian utama. Selain peningkatan hotspot, pemerintah juga menerima laporan masyarakat mengenai kabut asap dan terbatasnya jarak pandang.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, jumlah hotspot berkepercayaan tinggi mengalami peningkatan tajam pada 19 Agustus 2026.

Pada 17 Agustus, tercatat 93 hotspot di Kalimantan Barat, 28 titik di Kalimantan Tengah, dan dua titik di Kalimantan Selatan. Totalnya mencapai 123 hotspot.

Pada 18 Agustus, jumlah hotspot di Kalimantan Barat turun menjadi 15 titik. Namun, Kalimantan Tengah meningkat menjadi 73 titik dan Kalimantan Selatan menjadi 21 titik. Total hotspot pada hari tersebut mencapai 109 titik.

Lonjakan signifikan terjadi pada 19 Agustus. Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, Kalimantan Tengah 242 hotspot, dan Kalimantan Selatan 17 hotspot. Totalnya mencapai 518 titik.

Dengan demikian, selama periode 17–19 Agustus, tercatat 750 hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut.

Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa hotspot tidak otomatis menunjukkan jumlah kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga diperlukan verifikasi lapangan untuk memastikan lokasi, kondisi, penyebab, dan luas area terbakar.

Untuk menangani kondisi tersebut, sedikitnya 12.880 personel gabungan dikerahkan di tiga provinsi prioritas.

Sebanyak 10.700 personel berada di Kalimantan Tengah, 1.410 personel di Kalimantan Barat, dan 770 personel di Kalimantan Selatan.

Personel gabungan berasal dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan, dan masyarakat.

Mereka melakukan patroli, pemantauan hotspot, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan, pendinginan, hingga penyekatan area terbakar.

Pemerintah juga memperkuat sarana pemadaman dengan membangun dan mengaktifkan sumur bor di wilayah prioritas.

Langkah tersebut dilakukan karena sumber air permukaan semakin terbatas akibat kondisi kering. Ketersediaan air menjadi sangat penting dalam penanganan kebakaran di lahan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu api jika proses pembasahan tidak dilakukan secara menyeluruh.

Pemerintah memastikan operasi darat terus berjalan untuk mencegah kebakaran meluas. Masyarakat juga diminta segera melaporkan titik api atau kepulan asap kepada BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, maupun posko terdekat.

Penanganan karhutla akan terus diperkuat melalui patroli, deteksi dini, pemadaman, pendinginan, serta koordinasi lintas lembaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *