TMMD ke-129 Buka Akses Jalan Bersejarah di Mekarmukti

Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibinong, telah membuka kembali harapan masyarakat mengenai akses jalan.(Foto : Istimewa)

CIANJUREKSPRES.ID – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Tahun Anggaran 2026 yang dilaksanakan Kodim 0608/Cianjur di Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibinong, tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membuka kembali harapan masyarakat terhadap akses jalan yang telah puluhan tahun menjadi jalur penting bagi warga.

Kasi Kesra Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibinong, Hendi, mengatakan, jalan tersebut memiliki sejarah panjang bagi masyarakat setempat. Jalan itu disebut mulai dibuka sekitar tahun 1980-an oleh kakeknya, almarhum Nana Sumarna atau yang biasa dipanggil Pak Suheng.

“Sejarah jalan ini dibuka ketika kakek saya, almarhum Nana Sumarna atau biasa disebut Pak Suheng, pencetus jalan ini,” kata Hendi kepada Cianjur Ekspres, belum lama ini.

Menurutnya, saat itu Nana Sumarna merupakan kepala desa pertama di wilayah Cimaskara dan Padasuka. Sebelum menjadi Desa Mekarmukti sebagai wilayah pemekaran, kawasan tersebut masih masuk wilayah Padasuka dan Cikangkareng.

Hendi menyebut, kondisi jalan yang kini mendapat sentuhan program TMMD tersebut telah berusia sekitar 65 tahun. Selama puluhan tahun, masyarakat telah menunggu perbaikan jalan agar akses transportasi dan aktivitas ekonomi menjadi lebih mudah.

“Seperti tokoh yang di Cirendeu, dari mulai dia sekolah SD sampai sekarang dia punya cucu, baru kali ini dibangun,” ujarnya.

Dia mengaku pihak pemerintah desa juga telah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan tersebut. Selama sekitar empat tahun bekerja di pemerintahan desa, dirinya telah mengajukan proposal perbaikan jalan lebih dari 10 kali kepada berbagai pihak.

“Permintaan bantuan perbaikan sudah sering dilakukan. Saya melayangkan proposal perbaikan jalan sudah hampir lebih dari 10 kali, ada pengajuan ke sana ke sini. Cuma baru direalisasikan sekarang oleh program TMMD,” katanya.

Menurut Hendi, direalisasikannya pembangunan jalan melalui TMMD menjadi kabar baik bagi masyarakat. Namun, masih terdapat sekitar tiga kilometer jalan yang belum diperbaiki hingga menuju perbatasan Bandung.

“Alhamdulillah, yang penting kita ingin jalan bagus. Sisanya masih ada tiga kilometer jalan yang belum diperbaiki. Kalau ditambah tiga kilometer itu sampai ke perbatasan Bandung,” katanya.

Karena itu, pemerintah desa berharap program TMMD dapat terus dilanjutkan di wilayah tersebut sehingga seluruh akses jalan dapat diperbaiki secara bertahap.

“Kami berharap program TMMD bisa terus dilanjut di sini, supaya akses jalan kami bisa lebih bagus,” tutur Hendi.

Dia menilai, perbaikan akses jalan memiliki dampak besar terhadap potensi wisata maupun perekonomian masyarakat. Sebab, jalan tersebut bukan hanya digunakan warga Desa Mekarmukti, tetapi juga masyarakat dari dua kecamatan dan sekitar 10 desa yang setiap hari melintasi jalur tersebut.

Sebagian besar warga menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Berbagai hasil bumi, seperti sayuran dan kopi, dibawa melalui jalan tersebut menuju Kota Bandung.

“Yang memakai jalan ini bukan hanya dari desa kita, tetapi ada dari dua kecamatan. Kalau dihitung ada 10 desa yang menginjak jalan ini setiap hari untuk membawa hasil bumi ke Kota Bandung, seperti sayur mayur,” jelasnya.

Selain sayuran, masyarakat juga menghasilkan kopi robusta dan arabika. Saat memasuki masa panen raya, produksi kopi di wilayah tersebut disebut dapat mencapai sekitar 15 ton per hari.

“Mayoritas di kita sayur, kopi juga ada. Kalau sedang panen raya, kopi robusta dan arabika sekitar 15 ton per hari. Itu selama panen raya dari bulan April sampai Juni,” katanya.

Hendi optimistis perbaikan jalan secara menyeluruh akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Menurutnya, akses yang lebih baik juga berpotensi menarik investor untuk masuk ke wilayah tersebut.

“Kalau jalan sudah bagus semua, otomatis investor bakal banyak yang masuk, harga tanah naik. Kekurangan yang dibutuhkan itu hanya akses jalan,” ujarnya.

Dia mencontohkan kerugian petani yang terjadi akibat buruknya kondisi jalan, khususnya saat musim hujan. Keterlambatan pengiriman hasil panen dapat membuat harga komoditas turun.

Hendi mengaku pernah melihat langsung petani mengalami kerugian ketika mengirim hasil panen tomat ke pasar di Caringin, Bandung.

“Orang pasar dari Caringin Bandung menelepon, ‘Pak, coba tomat bawa sekarang, tapi harus sampai jam 12 siang.’ Tapi tidak tepat waktu. Harga tomat yang asalnya Rp15 ribu kadang menjadi Rp10 ribu karena telat,” katanya.

Kondisi tersebut semakin sulit ketika musim hujan karena jalan menjadi licin sehingga kendaraan pengangkut hasil pertanian membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan.

Dia berharap, pembangunan jalan melalui TMMD dapat dilanjutkan hingga seluruh jalur yang menjadi akses utama masyarakat dan petani, dalam mengangkut hasil bumi selesai diperbaiki.

“Mudah-mudahan dengan akses jalan bagus, kami berharap dan cita-citakan petani tidak rugi akibat keterlambatan mengirim hasil panen,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *