Upaya Lestarikan Budaya Lokal, Mahasiswa KKN 254 UIN Bandung Hadiri Kontes Ayam Pelung Warungkodang

CIANJUREKSPRES.ID – Kontes ayam pelung kembali menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk merawat dan memperkenalkan budaya lokal yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Cianjur. Di tengah semarak kegiatan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Sistem Pemberdayaan Masyarakat (KKN SISDAMAS) Kelompok 254 UIN Sunan Gunung Djati Bandung turut hadir dan berpartisipasi dalam meramaikan kontes ayam pelung yang diselenggarakan oleh masyarakat di wilayah Desa Bunisari, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu (08/08/2026) tersebut berlangsung meriah dengan antusiasme masyarakat yang datang dari berbagai penjuru daerah untuk menyaksikan sekaligus mengikuti kontes ayam pelung. Bagi masyarakat setempat, ayam pelung tidak sekadar menjadi hewan peliharaan, tetapi juga bagian dari identitas dan kebudayaan lokal yang memiliki nilai historis serta terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ayam pelung sendiri dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya khas Cianjur. Keberadaannya tidak terlepas dari kehidupan masyarakat yang sejak lama memelihara, merawat, dan mengembangkan ayam pelung sebagai bagian dari tradisi lokal. Kontes menjadi salah satu bentuk kegiatan masyarakat untuk mempertemukan para pecinta ayam pelung sekaligus memperlihatkan kualitas dan karakter khas ayam pelung kepada masyarakat luas.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 254 turut hadir bersama masyarakat dan melihat secara langsung bagaimana budaya lokal tetap hidup melalui kegiatan yang digerakkan oleh masyarakat. Kehadiran mahasiswa menjadi bagian dari upaya untuk mengenal lebih dekat tradisi dan potensi budaya yang berkembang di lingkungan tempat mereka melaksanakan pengabdian.

Menurut Jawad Syihab Umam, Mahasiswa KKN Kelompok 254, pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan formal. Tradisi yang masih dijalankan dan dirawat oleh masyarakat merupakan bentuk nyata bagaimana kebudayaan dapat terus bertahan di tengah perubahan zaman.

“Kontes ayam pelung ini menjadi salah satu contoh bahwa budaya lokal masih hidup dan memiliki tempat di tengah masyarakat. Bagi kami, kehadiran dalam kegiatan ini bukan hanya untuk menyaksikan kontes, tetapi juga untuk belajar dan mengenal lebih dekat budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Cianjur,” ujar Jawad mahasiswa KKN Kelompok 254.

Semarak kontes juga memperlihatkan tingginya ketertarikan masyarakat terhadap ayam pelung. Para peserta membawa ayam pelung yang telah dirawat dan dipersiapkan untuk mengikuti penilaian. Suasana semakin ramai dengan kehadiran masyarakat yang menyaksikan jalannya kontes serta berbagi pengalaman mengenai cara memelihara dan merawat ayam pelung.

Kepala Desa Bunisari, H. Dedi Juhaeri, menyambut baik kegiatan masyarakat tersebut. Menurutnya, kegiatan yang berkaitan dengan budaya lokal memiliki nilai penting karena dapat memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga identitas masyarakat.

“Budaya lokal harus terus dirawat karena menjadi bagian dari identitas masyarakat. Kontes ayam pelung seperti ini bukan hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan masyarakat. Kami tentu berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung dan semakin dikenal oleh generasi muda,” ungkap H. Dedi Juhaeri.

Ia juga mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang turut hadir dalam kegiatan masyarakat. Menurutnya, mahasiswa dapat mengambil peran dengan mengenal, mendukung, dan ikut mempromosikan berbagai potensi yang dimiliki masyarakat selama pelaksanaan KKN.

Ketua pelaksana kontes ayam pelung, Cecep Sulaeman, Sekaligus Kepala Dusun 3, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus menjaga keberadaan budaya ayam pelung di tengah masyarakat.

“Kontes ini kami adakan bukan hanya untuk melihat kualitas ayam pelung, tetapi juga sebagai ruang silaturahmi bagi para pecinta ayam pelung dan masyarakat. Kami ingin tradisi ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda, karena ayam pelung merupakan bagian dari budaya dan identitas masyarakat Cianjur,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kehadiran mahasiswa KKN Kelompok 254 UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang turut hadir dan ikut meramaikan kegiatan tersebut.

“Kami senang mahasiswa KKN bisa ikut hadir dan melihat langsung kegiatan masyarakat. Mudah-mudahan kehadiran mereka bisa ikut memperkenalkan ayam pelung sebagai salah satu budaya lokal Cianjur kepada masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.

Bagi mahasiswa KKN Kelompok 254, keterlibatan dalam kontes ayam pelung menjadi pengalaman tersendiri dalam memahami bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berkaitan dengan program pendidikan maupun pemberdayaan, tetapi juga dengan bagaimana mahasiswa dapat mengenal dan menghargai kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, kontes ayam pelung tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya lokal Cianjur. Kehadiran mahasiswa KKN Kelompok 254 diharapkan dapat menjadi bentuk dukungan terhadap masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Cianjur kepada generasi muda.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan tradisi seperti kontes ayam pelung menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup melalui masyarakat yang terus merawat dan menjalankannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *