CIANJUREKSRES.ID- Di tengah derasnya arus modernisasi, Desa Bunisari membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus mengikis akar tradisi dan nilai keagamaan. Hal tersebut terangkum dalam program Mini Monografi Desa Bunisari, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, yang diinisiasi oleh Kelompok 254 Kuliah Kerja Nyata Sistem Pemberdayaan Masyarakat (KKN SISDAMAS) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Ketua Kelompok KKN 254 SISDAMAS UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Abdan Syaquro Ali Ramdani, menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa di Desa Bunisari bertujuan membedah potensi, permasalahan, sekaligus harapan masyarakat. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator antara warga dan pemerintah setempat guna mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah selama tiga tahun terakhir.
Abdan menjelaskan bahwa latar belakang penulisan mini monografi ini didasari oleh keunikan Desa Bunisari. Desa ini tidak hanya tumbuh dari hamparan sawah dan pemukiman warga, tetapi juga dihidupkan oleh doa yang tak pernah putus serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Identitas budaya di desa ini dijalani secara nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui semangat gotong royong, seperti saling membantu membangun rumah, menjaga kebersihan lingkungan, hingga kegiatan bermasyarakat lainnya,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Salah satu tradisi unik yang masih bertahan berada di Kampung Bunikasih RW 07, yaitu tradisi Jabur atau Jaga Lembur pada Rabu malam Kamis.
Menariknya, petugas ronda malam ini didominasi oleh ibu-ibu lanjut usia karena wilayah tersebut mayoritas dihuni oleh lansia. Berdasarkan keterangan Ketua RW 07, tradisi Jabur telah berlangsung secara turun-temurun dan pernah mendapat apresiasi langsung dari Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi. “Hal ini menjadi dorongan bagi warga untuk terus menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perubahan zaman,” tuturnya.
Sisi keagamaan juga menjadi denyut utama kehidupan masyarakat Desa Bunisari. Di wilayah RW 07 dan RW 08 saja, terdapat 25 masjid dan majelis taklim yang aktif menyelenggarakan pengajian rutin hampir setiap hari. Tokoh agama setempat seperti Apih H. Wawan dan Ustadz Mansur menjadi figur yang dituakan dalam membimbing kegiatan keagamaan warga.
Kuatnya tradisi agamis di Desa Bunisari tidak terlepas dari peran para ulama terdahulu yang menjadi patron moral masyarakat. Nama-nama besar ulama Jawa Barat seperti Mama Gentur, Mama Soheh, Mama Acih, dan Eyang Gagak Tunggara memiliki jejak sejarah mendalam di wilayah ini.
Mama Gentur dikenal atas kedalaman ilmu, kharisma, serta kontribusinya dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sementara Mama Soheh merupakan guru dari Mama Gentur. Adapun Mama Acih memiliki keunikan tersendiri sebagai tokoh yang memopulerkan tradisi pemeliharaan hayam pelung, yang membuat Kabupaten Cianjur hingga kini menjadi rujukan utama kontestasi ayam pelung.
Selain itu, Kepala Dusun setempat, Cecep atau yang akrab dipanggil Bapa BHS, menceritakan sosok Eyang Gagak Tunggara. Menurutnya, Eyang Gagak Tunggara adalah Adipati Kerajaan Pasundan yang pada akhir hayatnya memilih menetap di Desa Bunisari karena daerah ini dinilai tenteram, kaya akan potensi pertanian dan perkebunan, serta jauh dari kebisingan kota.
Selain kekayaan budaya dan sejarah, Desa Bunisari memiliki potensi alam yang melimpah, salah satunya Sumur Jali. Sumber air ini menjadi penyuplai air utama warga dan tidak pernah kering meski di musim kemarau panjang.
Kepala Desa Bunisari, H. Dedi Juhaeri, mengungkapkan bahwa Sumur Jali pernah dilamar oleh salah satu perusahaan air terbesar di Indonesia karena kualitas air dan tingkat keasamannya yang sangat baik sehingga aman langsung dikonsumsi. “Namun, masyarakat menolak penawaran tersebut demi menjaga kelestarian sumber air bersama. Hingga kini, air Sumur Jali terus mengalir deras dan memberi manfaat nyata bagi warga,” tuturnya.
Melalui program penulisan mini monografi ini, tim KKN 254 UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyimpulkan bahwa pembangunan suatu wilayah tidak hanya diukur dari fisik bangunan atau infrastruktur jalan, melainkan dari kemampuan masyarakatnya dalam merawat karakter, nilai, dan budaya. Bagi masyarakat Desa Bunisari, doa adalah penguat langkah, ulama adalah penjaga arah, dan tradisi adalah rumah tempat masyarakat selalu pulang.












