CIANJUREKSPRES.ID – Sebanyak 403 ribu keluarga penerima bantuan pangan (PBP) di Kabupaten Cianjur menerima bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng, yang disalurkan pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Kepala Bidang Kerawanan Pangan Dinas Pangan Kabupaten Cianjur, Kunkun Kurnia, mengatakan, bantuan yang disalurkan untuk alokasi dua bulan tersebut mencapai sekitar 8.000 ton beras dan 1,6 juta liter minyak goreng.
“Untuk Kabupaten Cianjur ada kurang lebih 403 ribu PBP yang ditetapkan Bapanas. Bantuan yang sudah tersalur sesuai alokasi mencapai sekitar 8.000 ton beras. Sementara minyak gorengnya dua liter per KK per bulan, sehingga untuk dua bulan totalnya sekitar 1,6 juta liter,” kata Kunkun kepada Cianjur Ekspres, kemarin.
Dia menjelaskan, setiap keluarga penerima memperoleh 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng setiap bulan. Dengan demikian, untuk alokasi dua bulan masing-masing penerima mendapatkan 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng.
Menurutnya, bantuan tersebut merupakan alokasi Februari dan Maret, meski proses penyalurannya baru selesai pada 30 Juni 2026. Distribusi dilakukan langsung dari Bulog ke desa-desa dengan dukungan transportasi dari PT JBL.
“Bantuan ini menjadi bantalan sosial bagi masyarakat miskin. Penerimanya berasal dari desil 1 sampai desil 4, mulai dari kelompok masyarakat paling miskin hingga rentan miskin,” ujarnya.
Kunkun menuturkan, jumlah penerima bantuan tahun ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2025. Jika tahun lalu penerima hanya berasal dari desil 1 dan 2 dengan sekitar 200 ribu keluarga, pada 2026 cakupan diperluas hingga desil 4 sehingga jumlah penerima mencapai sekitar 400 ribu keluarga.
Terkait perubahan data penerima, dia menjelaskan proses pembaruan dilakukan secara bertahap oleh Kementerian Sosial melalui operator desa dengan mekanisme validasi dan verifikasi yang berlangsung setiap tiga hingga enam bulan.
“Kalau ada usulan penambahan warga miskin dari desa, tidak langsung muncul pada bulan berikutnya. Ada proses validasi dan verifikasi terlebih dahulu. Bulog hanya menggunakan data yang dikirim Bapanas sebagai dasar penyaluran bantuan,” katanya.
Selain menyalurkan bantuan pangan, Kunkun menambahkan, Bulog juga menjalankan program penyerapan gabah petani untuk menjaga harga hasil panen tetap sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengantisipasi dampak kekeringan dan fenomena El Nino terhadap rumah tangga petani.
“Melalui penyerapan gabah, pemerintah berupaya memastikan harga yang diterima petani saat panen tidak berada di bawah HPP, sehingga dapat melindungi pendapatan petani dari dampak kekeringan,” pungkasnya.












