Musim Kemarau di Cianjur, Warga Terpaksa Beli Air Galon dan Manfaatkan Air Sungai

Tampak warga di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur terpaksa harus memanfaatkan air sungai karena kesulitan mendapatkan air bersih di musim kemarau.
Tampak warga di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur terpaksa harus memanfaatkan air sungai karena kesulitan mendapatkan air bersih di musim kemarau.(istimewa)

CIANJUREKSPRES.ID – Warga di Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih memasuki musim kemarau. Mereka pun terpaksa harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membeli air galon.

Bahkan, seorang warga lebih memilih pindah rumah karena tidak sanggup terus membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya.

Seperti yang diutarakan seorang warga Kecamatan Cibeber, Taufik Winata (53). Dia mengatakan, terpaksa merogoh kocek tambahan sebesar Rp900 ribu setiap bulan untuk air bersih guna memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), dan memasak.

“Sebesar Rp 900 ribu setiap bulan, sekadar untuk membeli air galon guna memenuhi kebutuhan MCK dan memasak,” katanya, Minggu 19 Juli 2026.

Besarnya biaya yang dikeluarkan, serta musim kemarau yang diprediksi masih terus terjadi, membuat Taufik dan keluarganya memutuskan untuk pindah rumah ke daerah yang memiliki sumber air bersih yang lebih memadai.

“Sekarang saya dan keluarga pindah ke daerah Cisalak Hilir. Kebetulan di belakang rumah ada sumber mata air yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kekeringan ini,” katanya.

Menurutnya, wilayah tempat tinggalnya memang selalu mengalami kesulitan air bersih setiap musim kemarau. Jika hujan tidak turun selama dua hingga tiga hari, debit air sumur mulai menyusut hingga akhirnya mengering.

“Setiap kemarau panjang, daerah ini memang selalu kesulitan air bersih. Sungainya kan ada di bawah, sementara permukiman berada di atas. Jadi, kalau mau membuat sumur bor harus sangat dalam, dan biayanya tentu sangat besar,” katanya.

Kepala Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, M Rohman Budiman, mengungkapkan, wilayahnya sudah hampir sebulan tidak diguyur hujan. Kondisi itu menyebabkan sejumlah warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

“Bahkan di beberapa dusun, warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK),” katanya.

Rohman mengatakan pasokan air bersih di beberapa dusun lainnya masih relatif aman karena disuplai dari mata air di perbukitan melalui jaringan pipanisasi sederhana.

“Seperti di Kampung Cibinong, warga masih mendapatkan pasokan air bersih dari mata air Leuweung Hideung,” katanya.

Dia memperkirakan krisis air bersih akan semakin meluas dalam sepekan ke depan jika hujan belum turun. Prediksi itu berkaca pada kondisi yang terjadi pada musim kemarau tahun sebelumnya.

“Biasanya kalau kekeringan semakin parah, warga menggali tanah atau lahan sawah untuk membuat cerukan. Kami juga akan mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih ke pemerintah daerah,” kata Rohman.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menyebut wilayah yang terdampak musim kemarau bertambah empat kecamatan. Yakni, Kadupandak, Leles, Naringgul dan Cikalongkulon.

“Sejumlah kecamatan yang mulai terdampak kemarau tersebut yaitu, Kecamatan Kadupandak, Leles, Naringgul, dan Cikalongkulon,” ungkap Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cianjur Samudra Wira Purnama saat dihubungi.

Menurutnya, wilayah Kecamatan Leles dan Naringgul rata-rata yang terdampak musim kemarau yaitu area persawahan. Sedangkan untuk Kadupandak dilaporkan ada satu desa.

“Untuk Kecamatan Cibinong yaitu debit air sumur milik warga mulai berkurang. Kemarin kita bersama dengan PMI Cianjur dan Disperkimtan Kabupaten Cianjur telah menyalurkan bantuan air bersih ke Kecamatan Cibinong,” katanya.

Dia mengatakan, pihaknya saat ini tengah melakukan pendataan terkait dengan beberapa wilayah yang mulai terdampak kekeringan, dan menyalurkan bantuan berupa air bersih serta sumur bor.

“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur juga sudah menetapkan Status siaga darurat bencana kekeringan mulai Rabu 15 Juli 2026 hingga akhir September 2026,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan berdasarkan surat peringatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah Jawa Barat terutama Cianjur selama tiga pekan ke depan diperkirakan tidak ada potensi hujan.

“Potensi hujan memang masih ada, namun potensinya rendah. Selain itu kami juga terus berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mukti, PMI dan Disperkimtan Kabupaten Cianjur untuk penanganan musim kemarau,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *