CIANJUREKSPRES.ID– Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa menjadi perhatian dunia setelah dilaporkan menyebabkan lebih dari 1.300 kematian. Suhu udara yang menembus rekor tertinggi di berbagai negara dinilai menjadi bukti nyata semakin seriusnya dampak perubahan iklim global.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), suhu ekstrem tercatat mencapai 41,7 derajat Celsius di Jerman dan 40,5 derajat Celsius di Polandia. Kondisi tersebut memicu peningkatan angka kematian, terutama pada kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.
Para ahli menjelaskan, fenomena ini dipicu oleh heat dome atau kubah panas, yaitu kondisi ketika udara panas terperangkap oleh sistem tekanan tinggi sehingga terus memanas dan sulit bergerak ke wilayah lain. Situasi tersebut diperparah oleh pola cuaca omega block yang membuat massa udara panas bertahan dalam waktu lama.
Infrastruktur dan Lansia Jadi Faktor Risiko
Selain suhu yang sangat tinggi, tingginya angka kematian di Eropa juga dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur dan karakteristik demografi penduduk.
Sebagian besar bangunan di Eropa dirancang untuk menghadapi musim dingin sehingga kurang mampu meredam suhu panas ekstrem. Diperkirakan hanya sekitar 19 persen rumah tangga di kawasan tersebut yang memiliki pendingin ruangan (AC).
Di sisi lain, sekitar 22 persen populasi Uni Eropa merupakan warga berusia di atas 65 tahun yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan suhu tinggi.
Kondisi semakin memburuk karena tingginya kelembapan udara dan suhu malam hari yang tetap panas. Di beberapa wilayah Prancis, suhu malam hari tercatat bertahan pada kisaran 26 hingga 28 derajat Celsius sehingga tubuh tidak memiliki kesempatan optimal untuk mendinginkan diri.
BMKG: Gelombang Panas Tidak Terjadi di Indonesia
Menanggapi fenomena tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa gelombang panas atau heatwave secara teknis tidak terjadi di Indonesia.
BMKG menjelaskan, gelombang panas umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi akibat sistem tekanan udara tinggi yang stabil dalam jangka waktu lama. Sementara Indonesia yang berada di kawasan tropis memiliki dinamika atmosfer yang berbeda.
Meski demikian, Indonesia tetap berpotensi mengalami suhu udara yang terasa sangat panas, terutama saat musim kemarau dan minim tutupan awan.
“Yang terjadi di Indonesia umumnya adalah peningkatan suhu udara harian akibat cuaca cerah dan radiasi matahari yang tinggi, bukan gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa,” demikian penjelasan BMKG.
Kelembapan Tinggi Bisa Tingkatkan Risiko
Para ahli mengingatkan bahwa jika suhu tinggi terjadi bersamaan dengan kelembapan udara yang tinggi, dampaknya dapat lebih berbahaya bagi kesehatan.
Kelembapan tinggi membuat proses penguapan keringat menjadi lebih lambat sehingga tubuh kesulitan melepaskan panas. Akibatnya, risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heatstroke) dapat meningkat secara signifikan.
Ancaman Lingkungan dan Kebakaran Hutan
Gelombang panas yang terjadi di berbagai belahan dunia juga memicu dampak ekologis yang serius. Di kawasan Laut Mediterania, suhu permukaan laut dilaporkan meningkat hingga delapan derajat Celsius di atas rata-rata normal.
Sementara itu, wilayah barat Amerika Serikat tengah menghadapi ancaman kebakaran hutan besar akibat kombinasi cuaca panas, kekeringan, dan angin kencang.
Di Indonesia, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai puncak musim kemarau serta potensi kekeringan yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah gambut.
Selain itu, peningkatan suhu laut tropis juga berpotensi memicu fenomena pemutihan terumbu karang (coral bleaching) yang dapat mengancam ekosistem laut dan sektor perikanan.
Perlu Langkah Adaptasi
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menilai bahwa penggunaan pendingin ruangan secara berlebihan bukan solusi jangka panjang karena dapat meningkatkan konsumsi energi dan emisi gas rumah kaca.
Sebagai alternatif, berbagai pihak mendorong pengembangan ruang hijau, penanaman pohon, pembangunan kawasan teduh, serta penerapan konsep kota yang lebih ramah iklim untuk mengurangi dampak suhu ekstrem.
Sementara itu, masyarakat diimbau untuk menjaga hidrasi tubuh, mengurangi aktivitas berat saat cuaca terik, dan terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama musim kemarau.












