Di Kaki Gunung Gede, “Kami Menanam Manusia”

SMA Prima Teladan Membayar Sekolah dengan Barter Pengelolaan Sampah

SMA Prima Teladan
SMA Prima Teladan di Kampung Burangkeng, Desa Mangun Kerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur.(istimewa)

CIANJUREKSPRES.ID – PAGI di Kampung Burangkeng selalu datang lebih pelan. Kabut turun dari lereng Gunung Gede, menempel di pucuk-pucuk teh, di rumpun bambu, dan di halaman rumah yang mulai bergeliat. Ayam berkokok.Anak-anak mulai berjalan. Ada yang membawa buku. Ada yang membawa bekal. Dan ada juga yang membawa sampah. Ya, sampah. Karena di sekolah kami, pelajaran tentang kehidupan kadang datang dari sesuatu yang dianggap tidak berguna.

Di kaki timur laut Gunung Gede, tepatnya di Kampung Burangkeng, Desa Mangun Kerta, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, berdiri sebuah sekolah kecil bernama SMA Prima Teladan. Sekolah ini lahir pada tahun 2016. Bukan karena ada gedung megah yang menunggu diisi. Tetapi karena sebuah kegelisahan.

Dua orang dengan karakter kuat, Bapak H. Sugiyanto,SH dan Dra. Hj. Heny Mulyani, M.Pd., melihat sebuah kenyataan, Mengapa di wilayah ini belum ada SMA? Mengapa banyak anak yang ingin belajar harus berhenti karena keadaan? Mengapa kesempatan terasa begitu jauh bagi anak-anak kampung? Maka lahirlah sebuah keyakinan, Jika anak-anak tidak dapat mendekati pendidikan, maka pendidikanlah yang harus mendekati mereka.

Mengangkat dari Papan Bawah

Kabupaten Cianjur masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam pembangunan manusianya. Kecamatan Cugenang pun menghadapi tantangan yang sama. Maka sekolah ini lahir dengan sebuah mimpi sederhana, Mengangkat dari papan bawah, menuju papan tengah, dan perlahan bergerak menuju papan atas. Bukan pekerjaan yang mudah. Bukan pekerjaan yang singkat. Tetapi semua perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan sabar.

Sekolah Kecil dengan Percakapan Besar

Hari ini SMA Prima Teladan hanya memiliki Beberapa rombongan belajar di setiap tingkat. Setiap kelas diisi sekitar 30 –36 siswa. Sebagian orang mungkin menganggap jumlah itu terlalu sedikit. Tetapi bagi kami, itu adalah sebuah anugerah. Karena kami dapat mengenal setiap anak. Mendengar suaranya. Menemani pertumbuhannya. Dan membuka ruang percakapan yang lebih dalam.

Mengubah Cita-cita

Banyak anak datang dengan cita-cita yang berupa kata benda. “Aku ingin menjadi polisi.” “Aku ingin menjadi dokter.” “Aku ingin menjadi pegawai.” Lalu kami mencoba mengubah pertanyaannya. Bukan, Kamu ingin menjadi apa?

Tetapi, Kamu ingin melakukan apa? Karena pekerjaan bisa berubah. Tetapi keinginan untuk mengajar, membangun, merawat, melindungi, dan mengabdi akan selalu dibutuhkan. Maka cita-cita perlahan berubah dari kata benda menjadi kata kerja.

Di Sini Saya Berubah

Banyak anak datang dengan rasa tidak percaya diri, Mereka merasa tidak mampu. Merasa tidak pintar. Merasa kuliah bukanlah jalan hidup mereka. Sebagian besar berasal dari keluarga yang secara ekonomi juga tidak mudah. Tetapi kami mencoba mengganggu pikiran mereka. Kami bertanya, “Bagaimana kalau kamu bisa?” Pelan-pelan mereka mulai percaya.

Dalam tiga angkatan terakhir, sebanyak 9 Murid berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Artinya, setiap angkatan rata-rata ada 3–4 siswa yang kuliah. Mungkin bagi sebagian sekolah, angka ini kecil. Tetapi bagi kami, ini adalah cahaya. Karena hampir semuanya adalah:

* orang pertama di keluarganya yang kuliah;
* bahkan orang pertama di kampungnya yang melanjutkan pendidikan tinggi.

Hari ini, beberapa di antara mereka telah berproses hingga ke, Turkey, Japan, dan United Arab Emirates. Dan ketika ditanya tentang sekolahnya, seorang anak hanya berkata: “Di sini saya berubah.”

Pendidikan Dibayar dengan Kepedulian

Di sekolah ini, sampah bukan sekadar sampah. Sampah adalah bahan pembelajaran. Sekolah memiliki reaktor biogas berkapasitas 4 meter kubik yang mampu mengolah hingga 30 kilogram sampah organik setiap hari. Sisa makanan tidak berakhir di tempat pembuangan. Ia berubah menjadi: Energi, Pupuk, dan pelajaran tentang siklus kehidupan.

Sementara itu, setiap rumah siswa memiliki satu tugas: membuat ecobrick. Setiap galon ecobrick di rumah dapat terisi penuh dalam waktu sekitar tiga bulan dengan berat mencapai 7–8 kilogram. Artinya, setiap keluarga menghasilkan sekitar empat galon ecobrick dalam satu tahun. Dengan jumlah siswa yang ada, setiap tiga bulan sekolah mendapatkan sekitar 75 galon ecobrick dari rumah-rumah siswa. Semua kelas juga melakukan hal yang sama.

Sampah-sampah itu kemudian berubah menjadi:

* kursi di bawah pohon;
* benteng kecil di lingkungan sekolah;
* penguat lereng;
* dan suatu hari nanti direncanakan menjadi bagian dari penahan longsor di bibir sungai.

Di Bawah Pohon Itu

Kalau ada yang bertanya: “Di mana jantung SMA Prima Teladan?” Saya akan mengajaknya ke bawah sebuah pohon. Di sana berdiri bangku-bangku dari ecobrick. Anak-anak membuatnya sendiri. Menanam pohonnya sendiri. Mencangkul tanahnya sendiri. Lalu mereka duduk di atas hasil kerja tangannya sendiri. Disana mereka: Berdiskusi, Berdebat, Tertawa, Bermimpi, dan belajar menjadi manusia.

GPA Bentang

Sekolah juga memiliki sebuah ruang bernama: GPA Bentang – Gerakan Pecinta Alami. Bukan Pecinta Alam. Tetapi Pecinta Alami. Karena sebelum mencintai alam, manusia harus kembali kepada sifat alaminya: Peduli, Berani, mau belajar, dan tidak takut salah.

Di sini anak-anak belajar: mengelola sampah, memahami biogas, masuk ke sungai, berbicara di depan umum, Berdiskusi, dan mempersiapkan diri untuk hidup di masyarakat. Karena tujuan kami bukan mencetak anak-anak hebat di sekolah. Tetapi manusia yang bermanfaat di kampungnya nanti.

Kasih Terima

Setiap semester, orang tua wajib datang ke sekolah untuk pembagian rapor. Kami membuka percakapan. Kami menjaga komunikasi melalui grup. Kami belajar satu sama lain. Suatu hari seorang ibu berkata, “Kasih terima kepada sekolah.” Bukan terima kasih. Tetapi kasih terima. Kalimat sederhana yang terasa seperti doa.

Menjaga Benih

Perjalanan ini masih panjang. Menjaga konsistensi seringkali lebih sulit daripada memulainya. Membangun kepercayaan masyarakat membutuhkan waktu. Tetapi cahaya itu mulai tumbuh. Kepala desa mulai sering datang. Masyarakat mulai melihat karya. Anak-anak mulai berani bermimpi. Benih-benih menuju puncak mulai terlihat.

Lumbung Manusia

Kami tidak bercita-cita menjadi sekolah yang besar. Kami ingin menjadi, lumbung manusia. Tempat tumbuhnya anak-anak yang suatu hari akan kembali dan membesarkan kampungnya. Karena pada akhirnya Kami tidak sedang membangun sekolah yang besar. Kami sedang menumbuhkan manusia-manusia yang akan membesarkan daerahnya.

Di kaki Gunung Gede ini, kami sedang menanam sesuatu, Bukan gedung, Bukan nama besar, Tetapi manusia. Dan kami percaya, suatu hari nanti, dari sebuah sekolah kecil di Kampung Burangkeng, akan lahir orang-orang baik yang membawa cahaya bagi Cianjur, bagi Indonesia, dan mungkin bagi dunia.

Mengikuti Arus Air

Banyak orang bertanya kepada saya,sebagai murod “Mengapa masih di sana setelah sembilan tahun?” Saya tidak pernah merasa sedang bertahan. Saya hanya merasa sedang mengikuti arus air hidup saya. Karena air tidak pernah terburu-buru. Ia mengalir ke tempat yang memang menjadi jalannya. Kadang melewati batu. Kadang masuk ke celah-celah sempit. Kadang harus berputar. Kadang tertahan. Tetapi ia terus berjalan.

Mungkin hidup saya seperti itu. Pertemuan dengan sekolah ini. Pertemuan dengan anak-anak. Pertemuan dengan kampung ini. Pertemuan dengan sungai, lingkungan, dan orang-orang baik yang terus datang dan pergi. Semua seperti aliran air yang membawa saya sampai di sini. Saya tidak merasa sedang membangun sesuatu sendirian. Saya hanya ikut mengalir bersama banyak orang yang percaya bahwa perubahan, sekecil apa pun, tetap perlu ditanam.

Dan selama arus itu masih mengalir, selama masih ada anak yang ingin belajar, selama masih ada pohon yang perlu ditanam dan sungai yang perlu dijaga, mungkin langkah ini akan terus berjalan.

Karena pada akhirnya kami percaya, Pendidikan itu seperti air. Ia mengalir pelan, tetapi mampu mengubah batu. Ia tidak selalu terlihat kuat, tetapi memberi kehidupan. Dan ketika air menemukan jalannya, ia akan menyambungkan banyak kehidupan.

Sekali lagi, Kami tidak sedang membangun sekolah yang besar. Kami sedang menumbuhkan manusia-manusia yang akan membesarkan daerahnya. Dan saya tidak sedang bertahan di tempat ini. Saya hanya mengikuti arus air hidup saya, yang entah bagaimana, membawa saya ke sebuah sekolah kecil di kaki Gunung Gede untuk ikut menanam manusia.

Dari Burangkeng, untuk Mangunkerta.
Dari Mangun Kerta, untuk Cianjur.
Dari kaki Gunung Gede, kami mengibarkan bendera kecil bernama harapan.

Oleh:

Herry Trijoko

Murod Geografi dan Pembina Gerakan Pecinta Alami-Bentang (Ekskul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *