Pedagang Barang Antik di Cianjur Keluhkan Penurunan Penjualan

Penjualan berbagai barang koleksi, mulai dari batu akik, uang kuno, hingga barang-barang antik lainnya mengalami penurunan penjualan.(Foto: Cianjur Ekspres/Moch. Nursidin)

CIANJUREKSPRES.ID – Lesunya kondisi perekonomian membuat sejumlah pedagang barang antik dan loak di Kabupaten Cianjur harus berjuang mempertahankan usahanya. Menurunnya daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir berdampak langsung terhadap penjualan berbagai barang koleksi, mulai dari batu akik, uang kuno, hingga barang-barang antik lainnya.

Salah seorang pedagang barang antik di kawasan pertigaan Jalan Arif Rahman Hakim, Solokpandan atau yang dikenal sebagai Pasar Suuk, Anditar, mengaku omzet penjualan tahun ini mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

“Untuk tahun ini kondisi ekonomi memang sangat terasa sulit. Penjualan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Anditar kepada wartawan saat ditemui di lapaknya, Senin 22 Juni 2026.

Menurutnya, usaha barang antik dan koleksi bukan sekadar menyalurkan hobi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi para pedagang dan penghobi yang telah lama berkecimpung di bidang tersebut. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang belum membaik, para pelaku usaha dituntut lebih kreatif dan adaptif dalam memasarkan produknya.

Selain berjualan secara langsung di lapak, kata dia, para pedagang kini mulai memanfaatkan media sosial dan berbagai platform daring untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Mereka juga membangun jaringan dengan komunitas barang antik di berbagai daerah guna memperluas peluang transaksi.

“Biasanya para pedagang dan penghobi berkolaborasi dengan komunitas di luar daerah. Selain berjualan secara langsung, sekarang banyak juga yang memasarkan barang melalui grup media sosial,” katanya.

Anditar juga menyoroti dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat kecil. Dia mengaku hampir setiap hari menerima warga yang datang untuk menjual berbagai barang milik pribadi demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Banyak masyarakat yang datang menjual barang-barang rumah tangga, pakaian, hingga barang pribadi lainnya. Tidak hanya orang dewasa, terkadang anak-anak usia sekolah pun ada yang menjual sepatu atau pakaian mereka,” kata Anditar.

Dia berharap, pemerintah pusat maupun daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada para pedagang kecil melalui pembinaan UMKM dan bantuan modal usaha agar mereka mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.

Selain itu, Anditar juga mendorong pemerintah daerah menyediakan lokasi khusus bagi pedagang barang antik dan loak sehingga aktivitas perdagangan dapat berlangsung lebih tertata dan nyaman bagi masyarakat.

“Kalau ada tempat khusus tentu akan lebih baik. Selain membuat pedagang lebih tertata, masyarakat juga akan lebih nyaman saat berbelanja,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *