Perjuangan Ibu Asal Cianjur Menjemput Anaknya yang Sempat Hilang Kontak di Aceh Tamiang

Perjuangan Ibu di Cianjur Mencari Anaknya yang Terdampak Bencana di Aceh Tamiang
Ria Nisalia Lubis dan suami setelah berhasil menjemput anaknya, Delvin Putra Algifari dari zona bencana di Aceh Tamiang, belum lama ini. (Dokumentasi pribadi untuk Cianjur Ekspres)

CIANJUREKSPRES.ID – Perjuangan panjang dilakukan seorang ibu asal Cianjur, Ria Nisalia Lubis (38), yang tinggal di Perumahan Tirta Nirwana, Gekbrong.

Ibu tiga anak ini nekat bertolak ke zona bencana di Aceh Tamiang demi mencari anaknya yang sempat hilang kontak dan terdampak bencana banjir bandang pada akhir November 2025, kemarin.

Putra sulungnya, Delvin Putra Algifari (14), merupakan siswa kelas 2 SMP Muhammadiyah Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Sejak pertama kali mengetahui musibah melanda Aceh Tamiang, dia tidak tinggal diam dan terus berupaya mencari tahu keberadaan putranya.

Selama sepuluh hari, dia kehilangan kontak dan tak menerima kabar apapun sejak bencana terjadi pada Kamis, 27 November 2025 lalu.

Ria sendiri baru mengetahui adanya bencana dari teman-temannya. Dia pun sotak menghubungi guru untuk menanyakan kabar anaknya, namun semua nomor telepon yang dia hubungi tidak ada yang aktif.

“Saya awalnya tahunya itu dari teman-teman saya posting bencana di Aceh. Pas saya hubungi guru-guru di sana ternyata tidak ada aktif,” kata Ria saat dihubungi via telepon oleh Cianjur Ekspres, pada Rabu, 10 Desember 2025.

Berbagai upaya dilakukan, dia bahkan membeanikan diri menghubungi anggota DPR, Bupati Cianjur, serta relawan dari Cianjur untuk mencari keberadaan anaknya.

Namun, sampai hari ke-8 pascabencana, belum juga ada kabar yang jelas soal kondisi anaknya.

Dia juga mencoba meminta bantuan ke PMI Cianjur untuk ikut rombongan ke Aceh, namun keterbatasan kuota membuat dia tidak bisa berangkat.

“Katanya kuota dari Cianjur ini hanya untuk satu orang, jadinya saya tidak bisa ikut,” katanya.

Meski begitu, dia tidak menyerah, dia berinisiatif menggalang donasi untuk bisa menjemput anaknya secara langsung. Dia mengaku tak memiliki biaya yang cukup.

“Saya menggalang donasi dana dua hari karena gak ada ongkos. Akhirnya terkumpul kurang lebih Rp4juta, itupun banyaknya dari teman saya yang berdonasi dan seorang anggota DPRD. Setelah terkumpul, saya langsung berangkat, tidak tahu sampai atau tidak dengan uang segitu, yang penting saya bisa menjemput anak saya, agar saya bisa mengetahui kabar anak saya di Aceh. Ya namanya juga seorang ibu ya. Saya kan gak ada ongkos. Akhirnya alhamdulillah terkumpul. Hari Jumat malam saya akhirnya ke bandara, tapi ketinggalan pesawat. Jadi hari Sabtu saya berangkat ke Aceh,” katanya.

Menurutnya, saat perjalanan menuju ke Aceh, kabar baik akhirnya datang saat dia berada di bandara pada hari ke-10 pascabencana. Seorang guru mengabarkan putranya, Delvin, selamat.

“Pas hari ke-10, pas saya di bandara, dia (guru) ngehubungin kalau Delvin itu alhamdulillah selamat,” katanya.

Ria menceritakan, Delvin sudah dua tahun bersekolah di Aceh untuk belajar dan menghafal Al-Quran. Dia tinggal di sana karena dorongan keluarga dan keinginannya menjadi penghafal Quran (hafiz).

“Iya, jadi dia tuh sekolah di Aceh di boarding school gitu lah. Karena kan dia (Delvin) bilang, pengen jadi hafiz Quran. Adiknya juga asalnya mau ke sana juga nanti kalau udah SMP, tapi sekarang masih kelas 5 SD,” katanya.

Meski sudah mendapat kabar keselamatan, sang ibu belum mengetahui kondisi anaknya secara pasti karena tidak ada foto ataupun video yang menunjukkan keadaannya.

“Saya belum mengetahui secara liat foto atau video gitu, karena kan sinyal di sana susah gitu,” katanya.

Beuntung, relawan di Aceh Tamiang kemudian membantu ‘menembak’ kuota agar anaknya bisa menghubungi keluarganya.

Setelah berhasil melakukan share location, sang ibu menempuh perjalanan darat dari Medan untuk menjemput Delvin secara langsung.

“Nah kan ada relawan gitu yang nembak kuota, terus saya bilang shareloc shareloc gitu, nah abis itu langsung saya ke sana nyewa mobil dari Medan,” katanya.

Dia juga meninggalkan dua anak lainnya di rumah tanpa pengawasan karena orang tua mereka sudah tiada.

“Yang besar SMA kelas 2, yang kecil kelas 5 SD. Hanya dititip ke tetangga, itu juga tetangganya sibuk,” katanya.

Saat ini, dia dalam proses perjalanan pulang ke Cianjur bersama anaknya, setelah perjuangan panjang menyusuri kota yang terdampak bencana hanya dengan berbekal tekad dan bantuan para relawan.

Udah, sekarang lagi arah pulang ke Cianjur,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *