CIANJUREKSPRES.ID- Film Esok Tanpa Ibu menghadirkan kisah emosional yang memadukan drama keluarga dengan sentuhan fantasi dan teknologi.
Film berdurasi 1 jam 47 menit ini resmi tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026, mengangkat tema hubungan orang tua dan anak, kehilangan, serta harapan di tengah keterbatasan manusia.
Cerita berpusat pada Rama (Ali Fikri), seorang remaja yang memiliki hubungan kurang harmonis dengan sang ayah, Bima (Ringgo Agus Rahman).
Rama merasa tidak pernah benar-benar dipahami oleh ayahnya, sehingga sosok ibu, Saras (Dian Sastrowardoyo), menjadi satu-satunya tempat Rama merasa aman, dimengerti, dan dicintai tanpa syarat. Kedekatan Rama dan ibunya menjadi fondasi emosional utama dalam hidupnya.
Namun, kehidupan Rama berubah drastis ketika sang ibu tiba-tiba mengalami kecelakaan dan jatuh dalam kondisi koma. Peristiwa ini membuat Rama terpukul dan terperosok dalam kesepian mendalam. Ketidakhadiran ibunya bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi, terlebih dengan hubungan Rama dan ayahnya yang belum membaik.
Di tengah keputusasaan, Rama menemukan harapan tak terduga melalui i-BU, sebuah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) ciptaan temannya. AI tersebut dirancang dengan kemampuan meniru wajah, suara, dan kepribadian sang ibu. Lebih dari sekadar teknologi, i-BU menjadi media bagi Rama untuk berkomunikasi, menyalurkan rindu, sekaligus menjadi alat bantu untuk merangsang aktivitas otak ibunya yang masih terbaring koma.
Seiring berjalannya waktu, Rama semakin bergantung pada i-BU. Teknologi ini tidak hanya membantunya mengatasi rasa sepi, tetapi juga membuka kemungkinan medis yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Namun, kehadiran i-BU juga memunculkan konflik emosional dan etika: sejauh mana teknologi boleh menggantikan peran manusia? Apakah cinta dan kehadiran bisa direplikasi oleh mesin?
Film ini tidak hanya menyoroti hubungan Rama dan ibunya, tetapi juga menggali dinamika keluarga yang retak, proses penerimaan, serta usaha berdamai dengan kehilangan. Disutradarai oleh Ho Wi Ding dan ditulis oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, serta Melarissa Sjarief, Esok Tanpa Ibu menyajikan cerita yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya di era teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Dengan jajaran produser ternama seperti Shanty Harmayn dan Dian Sastrowardoyo, film ini menawarkan pengalaman menonton yang menyentuh hati sekaligus mengajak penonton merenungkan makna keluarga, harapan, dan batasan teknologi dalam kehidupan manusia.












