Dinamika Tektonik Indonesia dan Rekor Gempa Bumi Merusak Tahun 2025

Indonesia

CIANJUREKSPRES.ID- Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi. Kondisi ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang berada di zona pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudra Indo–Australia, Lempeng Samudra Pasifik, dan Lempeng Laut Filipina (Minster dan Jordan, 1978 dalam Yeats, 1997).

Interaksi keempat lempeng tersebut memicu terbentuknya berbagai sumber gempa bumi, baik yang berada di daratan maupun di wilayah perairan. Selain itu, proses tektonik ini juga berperan sebagai sumber pembangkit tsunami (tsunamigenic).

Sumber gempa bumi di Indonesia umumnya berasal dari zona penunjaman (subduction zone), zona outer rise, serta sesar aktif yang berkembang pada kerak bumi. Adapun sumber tsunami dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tsunami tektonik yang dipicu oleh gempa bumi, serta tsunami non-tektonik yang disebabkan oleh erupsi gunung api maupun gerakan tanah atau longsoran di dasar laut dan wilayah pesisir.

Kejadian Gempa Bumi Merusak di Indonesia

Berdasarkan data Badan Geologi di Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dalam kurun waktu 2000 hingga 2025 tercatat antara 5 hingga 41 kejadian gempa bumi merusak setiap tahunnya.

Gempa bumi merusak didefinisikan sebagai kejadian gempa yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, kerusakan geologi permukaan seperti retakan tanah, penurunan tanah, deformasi permukaan, gerakan tanah, likuefaksi, serta kerugian harta benda.

Pada tahun 2025, Badan Geologi menghitung jumlah gempa bumi merusak mencapai 41 kejadian, menjadikannya sebagai angka tertinggi dalam periode 25 tahun terakhir. Peningkatan jumlah kejadian gempa bumi merusak sejak 2021 hingga saat ini menunjukkan tren yang cukup signifikan.

Beberapa faktor yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan tersebut antara lain bertambahnya jumlah stasiun pemantauan gempa oleh PVMBG, percepatan penyebaran informasi, serta aktivitas sejumlah sesar aktif yang berada pada fase pelepasan energi.

Sejumlah kejadian gempa bumi merusak dalam beberapa tahun terakhir berkaitan dengan aktivitas sesar aktif, antara lain gempa Mamuju (2021), Tojo Una-Una (2021), Kepulauan Selayar (2021), Pasaman (2022), Ketapang Kalimantan Barat (2022), Tapanuli Utara (2022), Cianjur (2022), Dompu (2023), dan Bawean (2024).

Selain itu, beberapa kejadian juga diperkirakan bersumber dari zona penunjaman, seperti di selatan Jawa, barat Sumatra, Laut Banda, serta sistem penunjaman ganda Talaud–Mayu di wilayah timur Sulawesi Utara dan barat Halmahera.

Kejadian Gempa Bumi Merusak Tahun 2025

Masih dari data Badan Geologi PVMBG, kejadian gempa bumi merusak pada tahun 2025 diawali oleh gempa di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada 8 Januari 2025 yang bersumber dari sesar naik busur belakang Flores.

Sementara itu, kejadian terakhir tercatat di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, pada 28 Desember 2025 yang berasal dari zona sesar aktif Sumatra.

Secara keseluruhan, gempa bumi merusak tahun 2025 mengakibatkan dua korban meninggal dunia, sekitar 60 orang mengalami luka-luka, serta kerusakan pada puluhan bangunan. Mayoritas gempa bumi merusak tersebut bersumber dari sesar aktif di daratan.

Selain itu, terdapat lima kejadian gempa bumi yang berasal dari zona penunjaman, yaitu gempa di Gorontalo (3 Mei 2025 dan 5 November 2025), Bengkulu (23 Mei 2025), Maluku Tenggara (14 Juli 2025), serta Simeulue (27 November 2025).

Meskipun jumlah kejadian cukup tinggi, gempa bumi merusak sepanjang tahun 2025 tidak menimbulkan dampak besar seperti ruptur permukaan sesar maupun tsunami. Namun demikian, beberapa kejadian disertai bahaya ikutan berupa retakan tanah, seperti yang terjadi di Maluku Tenggara, Probolinggo, dan Sarmi. Tidak ditemukan kejadian penurunan tanah, gerakan tanah besar, maupun likuefaksi pada gempa bumi merusak tahun tersebut.

Tantangan Pemetaan Sesar Aktif

Pada tahun 2025, terdapat sejumlah kejadian gempa bumi yang diduga bersumber dari sesar aktif yang belum terpetakan secara rinci.

Lokasi-lokasi tersebut antara lain Bima, Jember, Kolaka Timur, Luwu Timur, Kota Bogor, Buton Utara, Bondowoso, Seram Bagian Barat, Probolinggo, Situbondo, Sumenep, dan Tarakan. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemetaan lanjutan terhadap sebaran dan karakteristik sesar aktif sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana dan penataan ruang wilayah.

Pelajaran dari Kejadian Gempa Bumi Merusak Tahun 2025

Kejadian gempa bumi merusak tahun 2025 memberikan sejumlah pelajaran penting, terutama terkait evaluasi dan pemanfaatan peta tematik yang disusun oleh Badan Geologi sebagai wali data. Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa bumi, peta tapak lokal, serta peta sesar aktif terbukti masih relevan dalam menggambarkan sebaran kerusakan bangunan.

Sebaran kerusakan bangunan umumnya berada pada KRB gempa bumi tingkat menengah hingga tinggi, serta pada kondisi tanah kelas D (tanah sedang), kelas E (tanah lunak), dan kelas C (tanah keras). Oleh karena itu, diperlukan peningkatan upaya mitigasi gempa bumi, evaluasi penataan ruang di wilayah rawan gempa, serta penguatan kegiatan penelitian untuk mengidentifikasi sumber gempa yang belum terpetaka

Pemetaan karakteristik sumber gempa bumi secara menyeluruh sangat penting sebagai dasar pemutakhiran peta KRB gempa bumi dan peta sesar aktif. Peta-peta tersebut diharapkan dapat menjadi acuan utama dalam mendukung mitigasi bencana serta perencanaan tata ruang yang lebih aman dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *