Tolak Proyek Geothermal di Cianjur, Warga Kembali Usir Alat Berat

geothermal
Warga kembali menolak alat berat proyek geothermal yang akan masuk ke wilayah permukiman dan kaki Gunung Gede Pangrango di kawasan Gang Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. (Cianjur Ekspres/Akmal Esa Nugraha)a

CIANJUREKSPRES.ID – Warga kembali menolak alat berat proyek geothermal yang akan masuk ke wilayah permukiman dan kaki Gunung Gede Pangrango di kawasan Gang Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Berdasarkan pantauan Cianjur Ekspres di lokasi, warga pun mengawal proses penurunan alat berat tersebut guna memastikan seluruh unit benar-benar keluar dari kawasan permukiman.

Salah seorang perwakilan warga kaki gunung gede pangrango, Aryo Prima, mengatakan pihak perusahaan berencana menaikkan tiga unit alat berat ke lokasi. Namun, hanya dua unit yang sempat masuk sebelum akhirnya dipaksa turun kembali oleh warga.

“Rencananya memang tiga alat berat. Yang satu ukurannya besar, ekskavator, masih tertahan di bawah. Dua dulu yang naik, tapi akhirnya diturunkan lagi,” kata Aryo, Selasa 27 Januari 2026 dini hari.

Menurutnya, satu unit alat berat tidak sempat dinaikkan karena kondisi jalan yang sempit dan dinilai tidak memungkinkan dilalui alat berat yang berukuran besar.

“Yang satu lagi gak sempat naik, karena mungkin kondisi jalan yang gak tau muat gak tau enggak ini,” katanya.

Aryo menjelaskan, alat berat tersebut rencananya digunakan untuk membuka akses jalan dari arah Ciguntur menuju Guntar hingga Mangga, sebagai bagian dari pembangunan jalan menuju titik bawah proyek Geothermal.

“Mulainya dari sini. Tapi seperti yang terlihat, masyarakat tetap menolak. Warga melihat pihak perusahaan tetap memaksakan diri meski sudah jelas ditolak,” katanya.

“Warga sudah melakukan permohonan audiensi, sudah berusaha bertemu bupati, tapi sampai sekarang belum terlaksana. Jadi yang bisa diandalkan warga ya pergerakan rakyat,” sambungnya.

Aryo menegaskan, selama alat berat masih mencoba masuk ke kawasan tersebut, warga akan terus melakukan penolakan.

“Kalau masuk lagi, ya kami keluarkan lagi. Kami turunkan lagi,” katanya.

Dia juga membantah anggapan kalau hanya sebagian wilayah yang menolak proyek tersebut.

“Seolah-olah masyarakat Ciguntur setuju dan Pasircina tidak, padahal Ciguntur juga tidak setuju. Pada umumnya masyarakat kaki Gunung Gede Pangrango menolak, karena mereka tahu kalau bagian atas dirusak, bagian bawah pasti lebih rusak pasti terdampak lebih parah,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *