Guru Honorer Cianjur Harap Diangkat Penuh Waktu

Sejumlah guru tenaga kerja sukarela (TKS) di Kabupaten Cianjur berharap pemerintah dapat memberikan kepastian status kepegawaian dengan skema pengangkatan penuh waktu. (Foto: Ilustrasi AI)

CIANJUREKSPRES.ID – Sejumlah guru tenaga kerja sukarela (TKS) di Kabupaten Cianjur berharap pemerintah dapat memberikan kepastian status kepegawaian dengan skema pengangkatan penuh waktu, bukan paruh waktu. Harapan itu muncul karena kesejahteraan guru honorer dinilai masih jauh dari layak.

Salah seorang guru TKS di salah satu SD di Kecamatan Sukaluyu, PBN (28), mengatakan, skema PPPK paruh waktu belum mampu menjawab persoalan ekonomi para tenaga honorer. Menurutnya, pendapatan yang diterima tidak jauh berbeda dibanding honor yang selama ini diperoleh guru TKS.

“Kami berharap semuanya bisa diangkat penuh waktu. Karena kalau paruh waktu, penghasilannya juga masih kurang. Banyak TKS yang sebenarnya sudah terdaftar dan belum diangkat, tapi statusnya masih non-ASN,” ujarnya kepada wartawan, Selasa 12 Mei 2026.

Dia mengungkapkan, di sekolahnya tempat mengajar masih terdapat lima guru TKS yang hingga kini belum memperoleh kepastian status kerja. Seluruhnya berharap bisa mendapat kesempatan menjadi pegawai penuh waktu agar memiliki penghasilan dan jaminan kerja yang lebih baik.

“Di sekolah kami masih ada lima guru TKS dan semuanya berharap bisa diangkat penuh waktu,” katanya.

Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap guru honorer masih perlu ditingkatkan. Sebab, hingga saat ini masih banyak tenaga pendidik berusia lanjut yang tetap mengajar dengan status honorer demi menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah negeri.

“Masih ada guru yang sudah sepuh tapi statusnya tetap honorer. Itu yang harus jadi perhatian pemerintah,” tuturnya.

Dia juga menilai kesejahteraan guru honorer seharusnya menjadi prioritas karena mereka memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada program pembangunan fisik maupun bantuan sosial, tetapi juga memperhatikan nasib tenaga pendidik.

“Pemerintah jangan sampai hanya fokus pada program lain seperti perbaikan gizi, sementara kehidupan guru masih kurang diperhatikan,” ujarnya.

PBN mengaku memahami beratnya perjuangan guru honorer karena sebagian besar anggota keluarganya juga berprofesi sebagai tenaga pendidik. Kondisi tersebut membuat dirinya mengetahui langsung tantangan ekonomi yang dihadapi guru honorer dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Keluarga saya juga kebanyakan tenaga pendidik. Jadi saya tahu bagaimana perjuangannya. Kami berharap guru honorer jangan dipandang sebelah mata,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *