SPPG di Sukaluyu Cianjur Dievaluasi, IPAL dan Sanitasi Jadi Sorotan, Pengelola Diberikan Waktu Perbaikan Sebulan

Pemerintah Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya.
Pemerintah Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya.(Cianjur Ekspres/Fauzi Noviandi)

CIANJUREKSPRES.ID – Pemerintah Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayahnya. Hasilnya, masih ditemukan adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang belum sesuai dengan standar, termasuk kekurangan fasilitas sanitasi.

Camat Sukaluyu, Ejen Jenal Mutakin, mengatakan, monev dilakukan bersama unsur Forkopimcam pada hari kedua pelaksanaan.

“Untuk monev hari ini, kami melakukan monitoring ke tiga titik, yakni SPPG Polri, SPPG Hegarmanah 3 Yayasan Ibrahimiyah, dan SPPG Hegarmanah 1,” katanya, Rabu 22 April 2026.

Dari hasil peninjauan tersebut, lanjut dia, pihaknya menemukan adanya kekurangan pada aspek tata letak (layout) fasilitas, khususnya di SPPG Hegarmanah 1 yang sebelumnya merupakan dapur percepatan.

“Ada beberapa yang harus diperbaiki dari infrastruktur layout. Kami sudah instruksikan kepada pihak mitra untuk segera melakukan perbaikan, dan mereka menyanggupi,” katanya.

Selain itu, dia mengatakan persoalan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) juga menjadi perhatian. Meski seluruh SPPG telah memiliki IPAL. Namun pengelolaannya dinilai belum sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“IPAL ini bukan hanya penampungan, tapi harus diolah. Selama ini masih ada persepsi bahwa cukup ditampung lalu disedot. Ke depan, harus sesuai SOP,” katanya.

Ejen menambahkan, saat ini pihak pengelola SPPG tengah memproses pengadaan IPAL portabel guna memenuhi standar yang ditetapkan.

“IPAL portabel sedang dalam proses pemesanan. Kami juga sudah melihat bukti bahwa mitra sedang berupaya memenuhi kebutuhan tersebut,” ungkapnya.

Dia mengatakan untuk memastikan perbaikan berjalan optimal, pihak kecamatan memberikan tenggat waktu maksimal satu bulan kepada seluruh pengelola SPPG.

“Kami beri waktu maksimal satu bulan. Setiap minggu akan dilakukan pengawasan bersama Puskesmas melalui tim kesehatan lingkungan,” tegasnya.

Dia mengatakan jumlah SPPG di Kecamatan Sukaluyu saat ini tercatat sebanyak 12 unit. Dari jumlah tersebut, 10 SPPG masih dalam tahap pembangunan.

“Yang dalam waktu dekat akan beroperasi di antaranya SPPG Sukasirna 2 Yayasan Apimsa dan SPPG Selajambe 2,” katanya.

Sementara itu, Koordinator SPPI wilayah Kecamatan Sukaluyu, Rangga Sudarwan Saputra, mengatakan monitoring dilakukan secara rutin dengan menyasar tiga titik setiap harinya.

“Per hari kita monitoring tiga SPPG. Dari hari Senin sampai sekarang sudah sembilan SPPG yang dipantau di wilayah Sukaluyu,” katanya.

Dia menjelaskan, kegiatan monev tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Forkopimcam, Danposmil, Puskesmas, hingga koordinator SPPG setempat.

“Alhamdulillah kita lakukan bersama Forkopimcam, Danposmil, Puskesmas, dan koordinator SPPG. Kita kerja sama bareng-bareng,” katanya.

Menurutnya, dari hasil monitoring, tidak ditemukan pelanggaran berat. Namun, terdapat sejumlah catatan yang perlu segera diperbaiki, terutama terkait instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan aspek sanitasi.

“Temuan yang berat tidak ada, tapi ada beberapa hal yang harus diperbaiki, termasuk IPAL agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” katanya.

Selain IPAL, dia mengatakan tim juga menemukan kekurangan pada fasilitas sanitasi, seperti belum tersedianya pendingin ruangan di beberapa area penyimpanan bahan makanan.

“Ada ruangan penyimpanan bahan yang belum menggunakan AC. Kami sarankan untuk dipasang agar bahan makanan, terutama yang basah, tidak cepat rusak,” katanya.

Dia menambahkan menindaklanjuti temuan tersebut, pihaknya memberikan waktu selama satu bulan kepada pengelola SPPG untuk melakukan perbaikan, dengan pendampingan dari tim kesehatan lingkungan (Kesling).

“Dalam satu bulan ini kita perbaiki, didampingi oleh Kesling. Kita sesuaikan apa saja yang harus dibenahi,” katanya.

Rangga memastikan, terkait kualitas makanan hingga saat ini belum ada keluhan serius dari masyarakat.

“Selama tujuh bulan ini tidak ada keluhan fatal. Kalau pun ada seperti buah yang kurang layak, langsung diganti,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *