BMKG Pantau Sebaran Asap di Sejumlah Wilayah Indonesia, Asap Lintas Batas Terdeteksi

BMKG Pantau Sebaran Asap di Sejumlah Wilayah Indonesia, Asap Lintas Batas Terdeteksi
BMKG Pantau Sebaran Asap di Sejumlah Wilayah Indonesia, Asap Lintas Batas Terdeteksi

CIANJUREKSPRES.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 10.00 WIB. Sebaran asap terpantau di berbagai wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.

Berdasarkan citra pemantauan tersebut, asap terdeteksi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan. Sebaran asap juga terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, serta Kalimantan Utara.

Di kawasan Indonesia bagian timur, deteksi asap mencakup Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

BMKG juga mengidentifikasi adanya sebaran asap lintas batas atau transboundary haze. Asap dari Sumatera terpantau bergerak menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura. Sementara itu, asap dari Kalimantan terpantau menuju Sarawak, Semenanjung Malaysia, dan Singapura.

Selain itu, sebaran asap dari Papua Nugini terpantau bergerak menuju wilayah Papua Selatan.

Dalam citra yang dirilis BMKG, arah pergerakan asap secara umum terpantau dari barat ke timur laut. Sementara itu, arah angin di Indonesia pada umumnya bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.

Citra satelit tersebut juga memperlihatkan titik-titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah. Keberadaan titik panas menjadi salah satu indikator yang perlu dipantau dalam upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pemantauan sebaran asap dan titik panas penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi atmosfer serta mendukung langkah antisipasi terhadap dampak karhutla. Meski demikian, deteksi titik panas melalui satelit tidak serta-merta menunjukkan bahwa setiap titik merupakan kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi.

Informasi ini menjadi perhatian di tengah kondisi potensi karhutla pada periode 22–28 Oktober 2026. Upaya pemantauan berkelanjutan diperlukan, terutama di wilayah yang mengalami peningkatan titik panas dan memiliki kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api.

Masyarakat di wilayah terdampak asap diimbau mengikuti informasi resmi BMKG dan instansi terkait serta memperhatikan kondisi kualitas udara setempat.

Sumber: BMKG, Citra Sebaran Asap Wilayah Indonesia, 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *