Strategi Aktif Puskesmas Sukanagara, Temukan TBC Lebih Dini, Obati Sampai Tuntas

Strategi Aktif Puskesmas Sukanagara, Temukan TBC Lebih Dini, Obati Sampai Tuntas
UPTD Puskesmas Rawat Inap Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, gencar melakukan tracing (pelacakan) penyakit Tuberkulosis (TBC) di tingkat desa.(Dok.Puskesmas Rawat Inap Sukanagara)

CIANJUREKSPRES.ID – UPTD Puskesmas Rawat Inap Sukanagara, Kecamatan Sukanagara, Kabupaten Cianjur, gencar melakukan tracing (pelacakan) penyakit Tuberkulosis (TBC) di tingkat desa.

Kepala UPTD Puskesmas Rawat Inap Sukanagara, Asep Ruswandi, menjelaskan, pihaknya melalukan tracing TBC sebagai bagian dari upaya penemuan kasus secara aktif.

“Jadi kami tidak hanya menunggu masyarakat datang berobat ke Puskesmas, tetapi kami berupaya mencari masyarakat yang berisiko atau memiliki gejala TBC di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan penemuan secara aktif, kami berharap kasus dapat ditemukan lebih dini dan segera mendapatkan pengobatan,” katanya kepada Cianjur Ekspres, Senin 5 Oktober 2026.

Berdasarkan data Puskesmas Rawat Inap Sukanagara, selama periode Januari-Juni 2026 ditemukan 306 orang terduga TBC dari target sasaran sebanyak 632 orang.

“Dari data tersebut terdapat 110 pasien yang tercatat positif TBC. Angka ini menjadi salah satu dasar bagi kami untuk terus memperkuat kegiatan penemuan kasus di masyarakat,” ungkap Asep.

Lebih lanjut dia mengatakan, tracing TBC sudah dilakukan di dua desa, yakni Desa Sukanagara dan Desa Sukamekar.

“Selanjutnya kami berencana memperluas kegiatan ke desa lainnya, antara lain Desa Sukalaksana, Sukakarya atau Sukarame. Penentuan lokasi tentu akan melihat data dan kondisi di lapangan sehingga kegiatan dapat lebih tepat sasaran,” ucap Asep.

Saat melakukan tracing nantinya petugas bersama kader melakukan penelusuran terhadap masyarakat yang memiliki gejala atau faktor risiko TBC. Apabila ditemukan masyarakat yang dicurigai sebagai terduga TBC, maka akan diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Selain menemukan kasus, kami juga memberikan edukasi mengenai gejala TBC, cara penularan, pencegahan serta pentingnya menyelesaikan pengobatan,” papar Asep

Dia menegaskan, keterlibatan kader dan masyarakat sangat penting dalam tracing TBC. Menurut Asep, kader sangat membantu karena mereka berada dekat dengan masyarakat dan mengetahui kondisi lingkungan di wilayahnya.

“Kami berharap masyarakat juga tidak takut atau malu untuk diperiksa. TBC bukan penyakit yang harus distigmatisasi. TBC dapat disembuhkan apabila ditemukan dan diobati secara tepat sampai tuntas,” katanya.

Asep berharap melalui kegiatan tracing ini semakin banyak kasus TBC yang dapat ditemukan sedini mungkin sehingga segera mendapatkan pengobatan.

“Dengan menemukan dan mengobati pasien sampai tuntas, kita bersama-sama dapat memutus rantai penularan TBC di masyarakat. Kami juga mengajak masyarakat untuk segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah ke TBC, terutama batuk yang berlangsung lama dan tidak kunjung sembuh,” katanya.

Asep pun berpesan kepada masyarakat agar jangan menunggu kondisi semakin berat untuk memeriksakan diri. Apabila ada gejala yang mengarah ke TBC, segera periksa ke Puskesmas.

“Selain itu, apabila ada anggota keluarga atau orang di sekitar kita yang sedang menjalani pengobatan TBC, mari kita berikan dukungan dan tidak memberikan stigma. Penanggulangan TBC membutuhkan kerja sama antara Puskesmas, pemerintah desa, kader dan seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *