Cianjur Jadi Pijakan Gerakan, Baha’ur Rifqi Tegaskan Arah BEM PTNU 2026

Cianjur Jadi Pijakan Gerakan, Baha’ur Rifqi Tegaskan Arah BEM PTNU 2026
Cianjur Jadi Pijakan Gerakan, Baha’ur Rifqi Tegaskan Arah BEM PTNU 2026

CIANJUREKSPRES.ID- Presidium Nasional BEM Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, menyampaikan hasil Musyawarah Pimpinan Nasional (MUSPIMNAS) BEM PTNU 2026 yang menjadi pijakan organisasi dalam memperkuat kelembagaan sekaligus menegaskan peran mahasiswa Nahdlatul Ulama dalam kehidupan kebangsaan.

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026 mengusung tema “Mengawal Stabilitas Nasional, Meneguhkan Ekonomi Kerakyatan Menuju Bangsa yang Berdaulat”. Menurut Baha’ur, tema tersebut menggambarkan perhatian organisasi terhadap kondisi kebangsaan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari kepastian hukum, ketahanan sosial, pemerataan ekonomi, pendidikan hingga kesejahteraan masyarakat.

Baha’ur mengatakan stabilitas nasional tidak dapat hanya dilihat dari sisi keamanan dan politik. Menurutnya, kondisi sosial dan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas serta kedaulatan bangsa.

Atas dasar itu, BEM PTNU menempatkan penguatan ekonomi kerakyatan sebagai salah satu agenda yang perlu mendapat perhatian. Penguatan UMKM, koperasi, ekonomi pesantren, sektor pertanian, perikanan, pekerja, serta kewirausahaan generasi muda menjadi bagian dari upaya memperluas kapasitas produktif masyarakat.

“Ekonomi kerakyatan harus menjadi bagian penting dari agenda kedaulatan bangsa. Penguatan UMKM, koperasi, ekonomi pesantren, petani, nelayan, pekerja, dan kewirausahaan generasi muda perlu terus didorong,” ujar Baha’ur.

Selain agenda kebangsaan, MUSPIMNAS 2026 juga menghasilkan sejumlah keputusan terkait pembenahan internal organisasi. Salah satunya adalah penegasan bahwa Presidium Nasional BEM PTNU ke depan harus berasal dari mahasiswa aktif.

Ketentuan tersebut diarahkan untuk memastikan kepemimpinan nasional BEM PTNU tetap memiliki keterhubungan langsung dengan kehidupan akademik dan dinamika kemahasiswaan.

Forum MUSPIMNAS juga menegaskan mekanisme pemilihan Presidium Nasional yang melibatkan Koordinator Wilayah BEM PTNU Se-Nusantara sebagai unsur pemilih. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat representasi dan legitimasi kelembagaan organisasi.

Baha juga menyampaikan bahwa MUSPIMNAS memberikan arah bagi penyusunan produk hukum baru terkait standar administrasi dan tata kelola organisasi. Standardisasi tersebut diharapkan dapat memperkuat akuntabilitas, ketertiban administrasi, dokumentasi, serta kesinambungan kelembagaan BEM PTNU di tingkat nasional, wilayah maupun daerah.

Selain penguatan organisasi, MUSPIMNAS memberikan mandat untuk merumuskan legal standing pendidikan kader muda Nahdlatul Ulama. Baha’ur menilai pendidikan kader memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan nilai, pengetahuan, kepemimpinan, dan pengabdian generasi muda NU.

Menurutnya, pendidikan kader tidak hanya diarahkan pada pemahaman keislaman dan ke-NU-an, tetapi juga perlu memperkuat kemampuan akademik, kepemimpinan, literasi digital, pemahaman terhadap kebijakan publik, serta kapasitas pengabdian sosial.

“Pendidikan kader harus mampu menjawab tantangan zaman. Kader tidak hanya membutuhkan pemahaman keislaman dan ke-NU-an, tetapi juga kapasitas akademik, kepemimpinan, literasi digital, serta kemampuan membaca persoalan kebijakan publik,” kata Baha’ur.

Pasca-MUSPIMNAS, Baha’ur Rifqi menegaskan BEM PTNU akan terus menjalankan peran kebangsaan dengan mengedepankan tradisi intelektual, tabayun, argumentasi berbasis data, serta koridor konstitusional.

BEM PTNU juga akan memperkuat pengawalan terhadap berbagai persoalan sosial dan kebangsaan, termasuk demokrasi, supremasi hukum, kebijakan publik, pendidikan, ekonomi, ketimpangan sosial, ketahanan pangan, lingkungan, kepemudaan, dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam menjalankan fungsi tersebut, Baha’ur menyebut BEM PTNU akan menempatkan diri sebagai mitra kritis dan konstruktif. Setiap kritik terhadap kebijakan akan didorong melalui kajian dan data serta diupayakan disertai alternatif solusi.

Hasil MUSPIMNAS 2026 selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui tiga agenda utama, yakni penguatan tata kelola organisasi, penguatan pendidikan, dan penguatan peran kebangsaan.

Baha mengatakan agenda tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat sistem kelembagaan dan regenerasi, merumuskan legal standing pendidikan kader muda NU, serta meningkatkan kapasitas kajian dan advokasi kebijakan publik.

Di sisi lain, BEM PTNU akan terus mendorong ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari agenda penguatan kedaulatan nasional.

Bagi Baha MUSPIMNAS 2026 bukan sekadar forum konsolidasi, tetapi menjadi momentum untuk memastikan organisasi mahasiswa Nahdlatul Ulama memiliki kelembagaan yang kuat, kader yang kompeten, serta kapasitas intelektual dalam mengawal kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *