CIANJUREKSPPRES.ID- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan kejadian dan penanganan bencana di sejumlah daerah Indonesia sepanjang Rabu (16/9) hingga Kamis (17/9). Sejumlah bencana yang tercatat meliputi banjir dan longsor, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta penanganan pascagempa bumi dan tsunami di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh, banjir dan longsor terjadi pada Rabu (16/9) sekitar pukul 15.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang dan petir memicu bencana di sejumlah wilayah.
BNPB mencatat delapan kecamatan dan 21 desa terdampak. Data sementara menunjukkan terdapat sekitar 18 kepala keluarga dan 18 rumah yang terkena dampak banjir maupun longsor.
Tim Reaksi Cepat (TRC) masih melakukan pemantauan sekaligus pendataan di lapangan. Petugas juga membantu masyarakat yang terdampak bencana. Proses pendataan hingga kini masih berlangsung.
Karhutla Terjadi di Sejumlah Daerah
Selain banjir dan longsor, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kebakaran terjadi pada Selasa (15/9) di kawasan Gunung Asu, petak 7 BKPH Jatilawang, Desa Kaliwangi, Kecamatan Purwojati. Area yang terbakar diperkirakan mencapai 12,8 hektare. Api telah berhasil dipadamkan dan petugas masih melakukan pemantauan.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Rabu (16/9). Kebakaran berlangsung di Dusun Ngasem, Desa Depok, Kecamatan Toroh, dengan luas lahan yang terbakar sekitar satu hektare. Api berhasil dipadamkan.
Sementara di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, kebakaran lahan terjadi di Desa Suruh dan Desa Gador pada Rabu (16/9). Luas area terdampak diperkirakan mencapai 2,85 hektare. Petugas melakukan pemadaman menggunakan gepyok dan membuat sekat bakar untuk mencegah api meluas.
Kebakaran lahan juga terjadi di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, pada Selasa (15/9) malam. Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar satu hektare.
Api berhasil dipadamkan pada Rabu (16/9) malam. Meski demikian, petugas masih melakukan pemantauan guna mengantisipasi munculnya titik api baru.
Penanganan Karhutla di Enam Provinsi Prioritas
Pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas terus dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari pemadaman darat, patroli, pemantauan titik panas hingga operasi udara.
Di Riau, luas lahan yang terbakar sejak 1 Januari hingga 16 September 2026 tercatat sekitar 20.015,35 hektare. Pada periode pemantauan tersebut terdapat tambahan area terbakar sekitar 19,3 hektare.
Di Jambi, karhutla telah dilaporkan terjadi di sembilan kabupaten dan dua kota dengan total luas lahan terbakar sekitar 3.048,68 hektare.
Sementara itu, pemantauan di Kalimantan Tengah mencatat 6.435 titik panas. Sebanyak 182 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 6.217 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 36 titik tingkat kepercayaan rendah. Luas indikatif lahan terbakar diperkirakan mencapai 16.010,1 hektare.
Di Kalimantan Selatan, pengendalian karhutla mendapat dukungan patroli udara dan operasi water bombing. Hingga 15 September 2026, telah dilakukan 43 kali operasi water bombing dengan total sekitar 172.000 liter air yang dijatuhkan.
Adapun di Kalimantan Barat, luas lahan terbakar pada 16 September 2026 mencapai sekitar 122,9 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 65,6 hektare telah berhasil dipadamkan, sementara 57,3 hektare lainnya masih dalam penanganan.
Pemantauan kualitas udara juga terus dilakukan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Hal ini menyusul penurunan jarak pandang dan meningkatnya konsentrasi partikulat di udara.
Pemulihan Pascagempa dan Tsunami di NTT
Di Nusa Tenggara Timur, penanganan pascagempa bumi dan tsunami masih berlangsung secara terpadu. Berdasarkan data koordinasi relawan per 15 September 2026, sebanyak 271 organisasi telah terlibat dalam kegiatan kemanusiaan dengan dukungan 2.118 personel yang ditempatkan di wilayah terdampak.
Pemerintah daerah juga mulai menjalankan masa transisi dari tanggap darurat menuju tahap pemulihan. Masa transisi tersebut berlangsung selama 90 hari di Kabupaten Ngada, 60 hari di Kabupaten Ende, 30 hari di Kabupaten Manggarai Barat, dan 90 hari di Kabupaten Sikka.
Dari sektor kesehatan, sebanyak 868 Tim Cadangan Kesehatan telah dikerahkan untuk memberikan pelayanan di tujuh kabupaten terdampak. Mereka bekerja bersama tenaga kesehatan setempat, seperti dokter, perawat, bidan, serta tenaga kesehatan lainnya.
Pelayanan kesehatan bergerak juga terus dilakukan untuk menjangkau masyarakat di wilayah terpencil, termasuk dengan dukungan Emergency Medical Team (EMT).
Selain penanganan kesehatan fisik, layanan dukungan psikososial turut diberikan kepada masyarakat terdampak, terutama anak-anak. Upaya ini dilakukan untuk membantu proses pemulihan setelah bencana.
Aktivitas Masyarakat Mulai Pulih
Kondisi masyarakat di sejumlah wilayah NTT mulai berangsur pulih. Aktivitas ekonomi dan perdagangan, termasuk kegiatan jual beli di pasar, perlahan kembali berjalan.
Sektor pariwisata juga mulai dibuka kembali secara bertahap. Hingga saat ini, tercatat 13 destinasi wisata telah kembali dibuka.
Sementara dalam bidang administrasi kependudukan, Direktorat Jenderal Dukcapil mengerahkan enam tim ke tujuh kabupaten dan kota terdampak.
Tim tersebut bertugas membantu memulihkan sebanyak 11.225 dokumen administrasi kependudukan melalui layanan jemput bola tanpa dipungut biaya.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana, termasuk banjir, longsor, karhutla, kekeringan, serta bencana hidrometeorologi lainnya.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dari sumber resmi seperti BNPB, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah. Apabila menemukan potensi bahaya atau terjadi bencana, masyarakat diimbau segera melaporkannya kepada aparat setempat.
Laporan tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., dan ditulis oleh Muhammad Andhika Rivaldi.












