CIANJUREKSPRES.ID – Ria Nisalia Lubis (38), seorang ibu asal Cianjur harus menempuh perjalanan panjang penuh rintangan demi memastikan keselamatan anaknya, Delvin Putra Algifari (14) yang menjadi korban bencana banjir bandang di Aceh Tamiang.
Dengan kondisi daerah terdampak bencana yang masih kacau, dia tetap nekat berangkat karena tak sanggup menunggu kabar anaknya yang tak kunjung jelas.
Dia menyebut sesampainya di Aceh, ruang gerak di daerah terdampak saat itu memang sangat terbatas. Pasokan makanan minim dan akses jalan rusak berat.
Alasan-alasan seperti membuat banyak rekannya melarang Ria berangkat ke Aceh.
“Katanya jangan ke sana, nanti malah nambah beban karena makanan susah. Tapi kalau terus nunggu, kita bingung anak kita gimana,” Kata Ria saat dihubungi oleh Cianjur Ekspres, pada Rabu, 10 Desember 2025.
Meski perjalanan dari Medan ke Aceh biasanya hanya memakan waktu dua jam, dia harus menempuh hingga tujuh jam perjalanan karena jalan berlumpur, dipenuhi debu, serta macet panjang akibat antrean BBM yang menutup akses jalan.
“Harusnya dua jam ini malah jadi tujuh jam. Kondisinya berlumpur, berdebu-debu, macet juga,” katanya.
Tak hanya itu, bau mayat masih tercium di jalan serta dari kendaraan yang terdampar. Selama perjalanann di Aceh Tamiang pun, dia dilarang membuka kaca mobil agar bau tersebut tak masuk.
“Benar, bau mayat. Katanya semua sudah dievakuasi, tapi banyak juga yang dibuang ke laut karena terpaksa. Kalau malam, gelap sekali, gak ada penerangan, benar apa yang dikatakan orang-orang kalah kota zombie tuh benar,” katanya.
Saat Bencana Melanda di Pagi Buta
Dia menjelaskan, berdasarkan keterangan anaknya, peristiwa banjir bandang itu terjadi di pagi buta, sekitar pukul 02.00 WIB. Saat sedang tidur, Delvin terbangun karena gedoran warga yang meminta seluruh penghuni asrama segera keluar gedung.
“Katanya pas digedor itu air masih semata kaki. Pas keluar sudah selutut,” katanya.
Delvin dan anak-anak lainnya pun berusaha menyelamatkan diri ke masjid terdekat. Namun banjir terus meninggi dengan cepat. “Pas mau ke masjid itu udah hampir 4 meter. Dia hampir hanyut, alhamdulillah masih ada tiang-tiang jadi bisa pegangan,” katanya.
Mayat-mayat Dibiarkan Hanyut ke Laut
Banyak jenazah korban banjir yang hanyut dan tersangkut di berbagai tempat. Karena tidak ada relawan dan kondisi daerah yang terisolir, jenazah-jenazah tersebut terpaksa dibiarkan mengapung berhari-hari dan hanyut ke laut.
“Sampai hari ketiga atau keempat itu mayat-mayat terapung ada juga yang menyangkut di pohon. Karena sudah bau busuk banget, akhirnya dihanyutkan ke laut. Anak saya sendiri melihat semua itu,” katanya.
Menurutnya, dia mendapati anaknya dalam kondisi linglung akibat syok berat menyaksikan langsung korban dan dahsyatnya bencana tersebut.
“Pertama kali bertemu, anak saya linglung, bengong, melamun, kaget, diajak cerita juga masih sedikit-sedikit mau ngomongnya, kaya orang trauma,” katanya.












