Korban Meninggal Gempa M6,7 di Sigi Bertambah Jadi Tiga Orang, Ribuan Warga Terdampak

CIANJUREKSPRES.ID – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah terus bertambah. Hingga Kamis (18/6/2026) pukul 13.51 WIB, tercatat tiga orang meninggal dunia, 17 orang mengalami luka berat, dan 91 orang luka ringan.

 

Berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana tersebut juga berdampak pada 2.109 kepala keluarga atau sekitar 6.412 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak.

 

Kabupaten Sigi menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah akibat gempa yang terjadi pada Selasa (16/6/2026). Tiga korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Desa Ampera, Kecamatan Palolo, dan Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki.

 

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 1.652 unit rumah. Rinciannya, 1.472 rumah mengalami rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 69 rumah rusak berat.

 

Kerusakan turut terjadi pada berbagai fasilitas umum dan sosial. BNPB mencatat sebanyak 42 rumah ibadah, delapan gedung perkantoran termasuk Kantor Bupati Sigi dan Bapperinda, 13 sekolah, dua rumah adat, serta delapan jaringan air bersih mengalami dampak akibat gempa.

 

Gempa bermagnitudo 6,7 tersebut terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 WITA. Pusat gempa berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tepatnya di wilayah Kabupaten Parigi Moutong dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

 

Meski demikian, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hingga Kamis (18/6/2026), BMKG mencatat sebanyak 703 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 5,2 dan terkecil 1,3. Sebanyak 25 gempa susulan di antaranya masih dapat dirasakan oleh masyarakat.

 

Pemerintah Kabupaten Sigi telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari sejak terjadinya bencana. Wakil Bupati Sigi ditunjuk sebagai Komandan Satuan Tugas Penanganan Darurat untuk mengoordinasikan berbagai upaya penanganan di lapangan.

 

Sementara itu, BNPB terus mendukung proses penanganan dengan menyalurkan bantuan logistik berupa tenda pengungsi, tenda keluarga, paket sembako, matras, selimut, hingga kasur lipat. Personel TNI dan Polri juga dikerahkan untuk membantu pembersihan puing bangunan serta distribusi bantuan kepada warga terdampak.

 

Sebagai bentuk perhatian pemerintah pusat, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dijadwalkan mengunjungi lokasi terdampak pada Jumat (19/6/2026). Kunjungan tersebut bertujuan memastikan penanganan darurat berjalan efektif sekaligus melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak gempa.

 

Saat ini, kebutuhan mendesak yang masih diperlukan di lokasi bencana meliputi tenda pengungsian tambahan, air bersih, selimut, matras, penerangan darurat, layanan kesehatan, serta dukungan pembersihan puing bangunan.

 

BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, pemerintah daerah, maupun BPBD setempat. Warga juga diminta tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh petugas karena gempa susulan masih berpotensi terjadi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *