CIANJUREKSPRES.ID – Pergerakan Mahasiwa Islam Indonsia (PMII) Komisariat STISIP Guna Nusantara Cianjur menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, Jumat 22 Mei 2026.
Aksi unjuk rasa tersebut menyikapi persoalan serius terkait tata kelola pendidikan dan dugaan penyimpangan dalam sistem PKBM di Kabupaten Cianjur.
Namun, aksi unjuk rasa yang digelar dari pukul 13.30 WIB, sampai 18.00 WIB tidak mendapatkan tanggapan dari Bupati dan pejabat di lingkungan Pemkab Cianjur.
Koordinator Aksi, Khoirul Fikri, mengungkapkan, pihaknya kecewa dengan sikap Bupati dan pejabat dilingkungan Pemkab Cianjur ditengah banyaknya persoalan sistem pendidikan.
“Saat ini banyak persoalan sistem pendidikan di Kabupaten Cianjur, terutama pendidikan non formal yaitu PKBM yang menurut kami banyaknya maladmistrasi,” katanya, Jumat 22 Mei 2026.
Menurutnya, adanya dugaan maladmistrasi tersebut yaitu inkonsistensi data jumlah PKBM, residu administrasi peserta didik yang sangat tinggi, hingga dugaan praktik manipulasi data, jual beli ijazah, dan markup peserta didik yang berpotensi merugikan keuangan negara melalui dana BOS.
“Lebih parah lagi, sekitar 51 ribu anak usia sekolah di Kabupaten Cianjur tercatat tidak bersekolah. Sehingga Kabupaten Cianjur masih menempati posisi IPM terendah di Jawa Barat, dengan rata-rata lama sekolah hanya 7,33 tahun atau setara kelas VII SMP,” katanya.
Sementara itu, Ketua PMII Komisariat STISIP Guna Nusantara Cianjur, Rezza Eka Gustya, mengatakan, berdasarkan hasil diskusi dan konsolidasi aksi mengenai kondisi pendidikan di Kabupaten Cianjur sedang berada dalam kondisi darurat dan krisis tata kelola.
“Hal tersebut didasarkan pada hasil kajian kritis pendidikan yang disusun PMII berdasarkan data BPS, Kemendikdasmen, Disdikpora, serta berbagai laporan publik tahun 2025–2026,” katanya.
Dia mengatakan, situasi tersebut menunjukkan bahwa negara dan pemerintah daerah belum sepenuhnya hadir menjamin hak pendidikan rakyat sebagaimana amanat UUD 1945 Pasal 31.
“Pendidikan hari ini tidak boleh hanya dijadikan angka statistik dan seremoni tahunan, sementara ribuan anak Cianjur masih tercecer dari sistem pendidikan formal,” katanya.
Rezza menambahkan, pihaknya akan kembali menggelar aksi serupa dengan jumlah masa yang lebih banyak dalam waktu dekat.












