CIANJUREKSPRES.ID- Kementerian Agama resmi memperkenalkan program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya menjawab berbagai persoalan di dunia pendidikan, seperti krisis moral, perundungan, hingga meningkatnya kekerasan dan sikap intoleransi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan, KBC dihadirkan sebagai pendekatan baru dalam pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan kecerdasan intelektual, tetapi juga penguatan aspek emosional dan spiritual peserta didik. Ia menekankan pentingnya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara berpikir, tetapi juga memiliki hati yang peka dan penuh empati.
Menurutnya, peran guru, penyuluh, serta aparatur sipil negara di lingkungan Kemenag sangat penting sebagai agen penyebar nilai-nilai kasih sayang, kepedulian sosial, dan toleransi, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.
Kurikulum ini juga diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga membawa keberkahan dalam setiap aktivitasnya. Sebab, produktivitas tanpa nilai kebaikan tidak akan memberikan dampak yang berarti dalam kehidupan.
Program Belajar Mandiri KBC dirancang untuk memperkuat kemampuan pedagogik dan kepribadian para guru serta penyuluh. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM, Muhammad Ali Ramdhani, menyebut pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman sekaligus pengalaman dalam menginternalisasi nilai-nilai cinta ke dalam proses pendidikan.
Melalui program ini, diharapkan tercipta lingkungan pendidikan dan kehidupan beragama yang lebih harmonis, inklusif, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Para peserta didorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam pembelajaran, pembinaan umat, maupun pelayanan publik.
Program Belajar Mandiri KBC diikuti oleh lebih dari 305 ribu peserta secara daring. Tingginya jumlah peserta menunjukkan semangat para tenaga pendidik dalam meningkatkan kualitas diri di era digital.
Pelaksanaan secara online juga dinilai efektif dalam memperluas akses pelatihan, sehingga guru di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil, tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Kementerian Agama berharap program ini tidak hanya berhenti sebagai pelatihan, tetapi berkembang menjadi gerakan nasional yang menanamkan nilai cinta dalam dunia pendidikan. Kolaborasi antara pemerintah, guru, dan masyarakat menjadi kunci utama agar tujuan tersebut dapat tercapai secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan ini, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, toleran, dan peduli terhadap sesama serta lingkungan.












