Indonesia: Rumah Kita yang Sedang Dirawat

Mulyawan Safwandy Nugraha Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Indonesia: Rumah Kita yang Sedang Dirawat
Indonesia: Rumah Kita yang Sedang Dirawat

CIANJUREKSPRES.ID- Negara ini, Indonesia kita, bukan sekadar peta di atas kertas, bukan pula sekadar lagu kebangsaan yang dinyanyikan di lapangan. Ia adalah rumah besar tempat kita semua tinggal. Tanah yang dipijak sama, langit yang dilihat serupa. Kini usianya menginjak 81 tahun. Tema yang diangkat: Berdaulat, Adil, dan Makmur. Bagi saya, ini bukan semboyan politik. Ini adalah doa, sekaligus cermin bagi kita semua: bagaimana wajah rumah kita hari ini?

Dalam ajaran agama, kita tahu bahwa segala yang ada di bumi ini hanyalah titipan Tuhan. Kekuasaan itu milik Allah Yang Maha Tinggi. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: “Katakanlah: ‘Ya Allah, Pemilik segala kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki’” (QS. Ali Imran: 26). Maka, berdaulat itu bukan berarti angkuh atau merasa bisa semena-mena. Berdaulat artinya mandiri hati, tidak menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain, dan mampu menjaga amanah yang dititipkan Tuhan. Mengelola tanah air ini dengan jujur, tidak menjual kehormatan bangsa demi keuntungan sesaat. Tapi jujur saja, kita belum sepenuhnya merasakan kemandirian yang utuh. Masih ada sisa-sisa rasa rendah diri di hadapan orang asing, atau mungkin ketergantungan yang membuat kita tdk berani berkata lantang.

Lalu soal keadilan. Ini adalah nyawa dari kehidupan bersama. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi yang lurus” (QS. An-Nisa: 135). Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang adil akan berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar cahaya” (HR. Muslim). Keadilan itu sederhana: setiap orang mendapat haknya, setiap orang diperlakukan sama. Namun di lapangan, realitanya kadang terasa lain. Kita melihat yang besar makin besar, yang kecil makin tertindas. Jarak antara pusat dan daerah masih terasa jauh, kesenjangan antara kaya dan miskin masih terlihat nyata. Hukum kadang terasa tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Apakah ini adil? Bukan. Dan ketidakadilan adalah luka yang perlahan mematikan persaudaraan kita. Sebagaimana tubuh sakit jika aliran darah terhambat, bangsa ini pun lemah jika keadilan tidak berjalan lurus.

Dan yang terakhir, makmur. Seringkali kita mengira makmur itu sama dengan kaya raya, banyak harta, gedung tinggi. Padahal makmur sejati dalam pandangan hidup dan iman kita adalah tenang, aman, dan berkah. Ketika harta bumi ini cukup untuk semua, bukan menumpuk di tangan segelintir saja. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri” (HR. Bukhari & Muslim). Negeri ini boleh saja angka ekonominya naik, tapi jika masih ada yang lapar, tidak sekolah, atau hidup dalam ketakutan, maka itu belum makmur. Itu hanya pamer kemewahan yang rapuh. Kita masih melihat banyak saudara kita yang hidupnya masih berat, berjuang keras demi sesuap nasi, sementara di sisi lain hidup berlimpah ruah. Perbedaan yang tajam ini seringkali membuat kita lupa, bahwa kita bersaudara.

Kita harus sadar, membangun bangsa ini tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah atau kekuatan uang. Ia butuh hati yang bersih, kesadaran bahwa kita satu keluarga di rumah bernama Indonesia ini. Kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran itu bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil kerja sama kita yang didasari rasa takut kepada Tuhan dan cinta kepada sesama.

Realita hari ini memang belum sempurna. Masih banyak kekurangan, masih banyak luka yang belum kering. Namun janganlah kita hanya duduk diam lalu mengeluh. Mulailah dari diri sendiri. Jadilah orang yang jujur di tempat kecil, berlaku adil kepada tetangga, dan berbagi dengan yang kurang. Perubahan besar selalu bermula dari kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus.

Jangan sampai kita terbuai oleh kemegahan semu, lalu lupa merawat persaudaraan. Rumah kita ini, Indonesia, butuh penghuninya yang saling mengerti, saling menguatkan, dan tidak saling menjatuhkan. Masih ada sifat serakah yang menyelinap, yang kadang membuat kita buta melihat penderitaan orang lain. Kita berharap, di usia yang ke-81 ini, kita makin dewasa, makin sadar bahwa hidup bernegara adalah ibadah juga, bentuk bakti kita kepada Yang Maha Kuasa.

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk memperbaiki apa yang kurang, menjaga apa yang baik, dan berjalan bersama menuju cita-cita yang lurus. Semoga negeri ini benar-benar menjadi tempat tinggal yang aman, adil, dan diberkahi Allah.

Wallahu ‘alamu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *