CIANJUREKSPRES.ID- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD/IDR) pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, berada di kisaran Rp17.480 hingga Rp17.525 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis Rp17.500 pada perdagangan siang hari dan menjadi salah satu pelemahan terdalam sepanjang sejarah.
Berdasarkan pantauan pasar valuta asing hingga pukul 13.25 WIB, nilai 1 rupiah berada di kisaran US$0,000057073. Pergerakan kurs menunjukkan tekanan yang cukup besar sejak pembukaan perdagangan pagi.
Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi sejumlah faktor global maupun domestik. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, membuat investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Kondisi tersebut menyebabkan permintaan dolar meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed juga memicu arus modal asing keluar dari pasar Indonesia. Investor cenderung memilih aset dolar yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Dari sisi domestik, tekanan juga datang dari tingginya kebutuhan pembayaran utang pemerintah dan korporasi yang jatuh tempo sepanjang tahun 2026. Permintaan dolar untuk kebutuhan pembayaran luar negeri turut memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
Berikut rincian kurs beberapa mata uang asing terhadap rupiah hari ini berdasarkan estimasi pasar spot dan perbankan:
- Dolar AS (USD): Jual Rp17.520 | Beli Rp17.480
- Dolar Singapura (SGD): Jual Rp13.808 | Beli Rp13.746
- Euro (EUR): Jual Rp20.632 | Beli Rp20.551
- Yen Jepang (JPY): Jual Rp111,46 | Beli Rp110,91
- Poundsterling Inggris (GBP): Jual Rp23.846 | Beli Rp23.737
- Dolar Australia (AUD): Jual Rp12.696 | Beli Rp12.633
Analis menilai pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan masih akan dipengaruhi kondisi global, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed serta perkembangan geopolitik internasional. Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah agar tidak mengalami tekanan yang lebih dalam.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tetap memantau perkembangan kurs secara berkala, terutama bagi yang memiliki aktivitas transaksi impor, perjalanan luar negeri, maupun investasi berbasis mata uang asing.












