Aksi Mahasiswa Guncang Disdik Cianjur, Desak Usut Dugaan Pungli dan Ketertutupan Anggaran

CIANJUREKSPRES.ID-Aksi mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat Cianjur (LKMMC) mengguncang halaman kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur hari ini. Dengan membawa spanduk dan tuntutan tegas, massa menyoroti kondisi pendidikan yang dinilai sarat persoalan dan jauh dari prinsip transparansi.

 

Sorotan utama dalam aksi ini adalah dugaan praktik pungutan liar (pungli), indikasi ketidakterbukaan, serta potensi adanya permainan kepentingan dalam pengelolaan sektor pendidikan.

 

Dalam orasinya, koordinator aksi menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan nyata di tengah masyarakat, bukan sekadar asumsi.

 

> “Kami tidak asal bicara. Ada keresahan, ada temuan, dan ada tanda tanya besar yang sampai hari ini belum dijawab. Kalau memang bersih, kenapa tidak dibuka ke publik?” tegasnya.

 

Ketua LKMMC, Pebi Yasril Purnama,  turut menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa dalam menjaga marwah pendidikan.

 

“Kami hadir bukan untuk mencari kesalahan, tapi memastikan tidak ada yang disembunyikan. Pendidikan adalah hak rakyat, bukan ruang untuk kepentingan segelintir pihak. Jika memang bersih, maka tidak ada alasan untuk tidak transparan,” ujarnya.

 

LKMMC menilai bahwa jika berbagai dugaan tersebut tidak segera diklarifikasi, maka hal ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

 

Aksi ini juga menjadi tekanan moral agar pihak terkait tidak mengabaikan suara masyarakat.

 

Adapun tuntutan yang disampaikan meliputi:

 

1.  Mendesak klarifikasi terbuka dari Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.

2. Menuntut transparansi penuh dalam pengelolaan anggaran dan kebijakan pendidikan.

3. Mendorong aparat penegak hukum untuk menelusuri berbagai dugaan secara objektif dan independen.

4. Menolak segala bentuk pungutan liar dalam dunia pendidikan.

 

Massa aksi menegaskan bahwa gerakan ini tidak akan berhenti pada satu momentum. Jika tidak ada langkah konkret, gelombang aksi lanjutan akan terus dilakukan dengan skala yang lebih besar.

 

“Ini bukan aksi terakhir. Ini peringatan awal. Pendidikan tidak boleh dijadikan ruang gelap yang penuh tanda tanya,” lanjut perwakilan massa.

 

Aksi berlangsung kondusif dengan pengawalan aparat keamanan. Namun pesan yang disampaikan jelas: mahasiswa akan terus berdiri sebagai kontrol sosial untuk memastikan dunia pendidikan tetap bersih dan berpihak pada rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *