CIANJUREKSPRES.ID– Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari tindakan perundungan terus dilakukan sejak jenjang sekolah dasar. Sebagai bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang karakter serta kesehatan mental generasi muda, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 254 UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Seminar Anti-Bullying di SDN Bunikasih 1, Desa Bunisari, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (06/08/2026) ini diikuti dengan antusias oleh siswa-siswi kelas 4 dan kelas 5. Seminar menghadirkan dua pemateri dari mahasiswa KKN Kelompok 254, yakni Syafa Malika Putri dan Syahiratul Maghfiroh, yang menyampaikan materi mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Dalam pemaparannya, Syafa dan Syahira menjelaskan berbagai bentuk perundungan, mulai dari bullying fisik, verbal, sosial, hingga psikologis beserta dampak jangka panjangnya terhadap korban. Materi disampaikan dengan pendekatan yang komunikatif, interaktif, dan ramah anak sehingga para siswa mampu memahami perbedaan antara bercanda dengan perilaku yang dapat menyakiti perasaan orang lain.
Selain itu, para siswa diajak untuk menumbuhkan rasa empati, menghormati perbedaan, serta berani mengambil sikap ketika melihat maupun mengalami tindakan perundungan. Mereka juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya melaporkan kejadian bullying kepada guru atau orang tua sebagai bentuk perlindungan terhadap diri sendiri maupun teman.
Syafa menjelaskan bahwa seminar ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran sejak dini agar budaya saling menghargai tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendidikan karakter harus ditanamkan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar. Melalui seminar ini, kami ingin memastikan bahwa sekolah menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk belajar, berteman, dan mengekspresikan diri tanpa rasa takut atau terintimidasi,” ujarnya.
Sementara itu, Syahira menambahkan bahwa pencegahan bullying harus dimulai dari pembentukan karakter yang penuh kepedulian dan empati.
“Ketika anak-anak terbiasa saling menghormati dan menghargai perbedaan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap sesama. Kami berharap nilai-nilai tersebut dapat terus diterapkan, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal mereka,” tuturnya.
Kepala SDN Bunikasih 1, N Imas Dewi, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah menghadirkan edukasi mengenai pencegahan perundungan kepada peserta didik.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN Kelompok 254 UIN Sunan Gunung Djati Bandung atas pelaksanaan seminar anti-bullying ini. Materi yang disampaikan sangat bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan sehingga anak-anak semakin memahami pentingnya saling menghargai, menghormati, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta nyaman,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Desa Bunisari, H. Dedi Juhaeri, yang menilai bahwa seminar tersebut merupakan langkah positif dalam membangun karakter generasi muda sejak usia dini.
“Kami sangat mengapresiasi kepedulian mahasiswa KKN UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah menghadirkan program edukatif bagi anak-anak di Desa Bunisari. Pencegahan perundungan merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, pemerintah desa, dan orang tua sangat penting agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghargai,” ujar H. Dedi Juhaeri.
Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN tidak hanya memberikan kontribusi dalam bidang pendidikan, tetapi juga menjadi mitra bagi pemerintah desa dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui penguatan karakter sejak usia sekolah dasar.
Melalui kegiatan ini, diharapkan SDN Bunikasih 1 dapat terus menjadi lingkungan belajar yang harmonis, aman, dan mendukung tumbuh kembang seluruh siswanya. Seminar ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara sekolah, pemerintah desa, orang tua, dan mahasiswa dalam mencegah perundungan serta menciptakan lingkungan yang nyaman bagi setiap anak.












