cianjurekspres.id- Bullying atau perundungan di sekolah masih menjadi persoalan yang dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental, prestasi belajar, hingga perkembangan sosial anak. Sayangnya, tidak semua anak berani menceritakan pengalaman yang dialaminya kepada orang tua atau guru.
Karena itu, penting bagi orang tua dan tenaga pendidik untuk mengenali tanda-tanda awal seorang anak menjadi korban bullying agar dapat memberikan bantuan sedini mungkin.
Berikut lima ciri yang sering muncul pada anak yang mengalami bullying di sekolah.
1. Enggan Berangkat ke Sekolah
Salah satu tanda yang paling umum adalah anak tiba-tiba sering menolak pergi ke sekolah. Mereka bisa mencari berbagai alasan, seperti mengaku sakit, meminta izin tidak masuk, atau terlihat cemas setiap kali hari sekolah tiba.
Jika kondisi ini berlangsung berulang tanpa penyebab yang jelas, orang tua perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
2. Perubahan Emosi yang Drastis
Anak yang menjadi korban bullying sering mengalami perubahan suasana hati. Mereka bisa menjadi lebih pendiam, mudah marah, sering menangis, atau terlihat murung tanpa alasan yang jelas.
Perubahan perilaku ini dapat menjadi sinyal bahwa anak sedang menghadapi tekanan di lingkungan sekolah.
3. Prestasi Belajar Menurun
Bullying dapat mengganggu konsentrasi dan motivasi belajar. Akibatnya, nilai pelajaran menurun, tugas sekolah terbengkalai, atau anak kehilangan minat mengikuti kegiatan belajar.
Jika penurunan prestasi terjadi secara tiba-tiba, kondisi psikologis anak juga perlu diperhatikan.
4. Memiliki Luka atau Barang yang Sering Hilang
Orang tua perlu waspada apabila anak sering pulang dengan memar, luka, pakaian rusak, atau perlengkapan sekolah yang hilang tanpa penjelasan yang masuk akal.
Meski tidak selalu disebabkan oleh bullying, kondisi ini perlu ditanyakan secara baik-baik kepada anak.
5. Menarik Diri dari Lingkungan Sosial
Korban bullying cenderung menghindari pergaulan. Mereka menjadi lebih suka menyendiri, kehilangan kepercayaan diri, dan enggan mengikuti kegiatan bersama teman-temannya.
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental anak dalam jangka panjang.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Apabila menemukan beberapa tanda tersebut, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan anak. Bangun komunikasi yang hangat, dengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, dan berikan rasa aman agar anak berani mengungkapkan apa yang dialaminya.
Jika dugaan bullying terbukti, segera berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mencari solusi terbaik. Penanganan yang cepat dapat mencegah dampak yang lebih serius terhadap kondisi emosional dan perkembangan anak.
Bullying bukan sekadar candaan atau kenakalan biasa. Semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat, memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.












