CIANJUREKSPRES.ID – Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Cianjur terus berinovasi dalam memperluas makna literasi di tengah masyarakat.
Bukan sekadar tempat meminjam buku, Perpustakaan Umum Kabupaten Cianjur kini secara terbuka memfasilitasi berbagai kegiatan literasi mulai dari pelatihan, gelar kebudayaan, pertunjukan musik, hingga seminar edukatif.
Langkah ini diambil untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat (Community Hub) yang inklusif. Fasilitas yang tersedia kini dapat dimanfaatkan oleh komunitas, pelajar, pegiatat literasi maupun pegiat seni untuk menyelenggarakan kegiatan yang berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di Cianjur.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Cianjur, Asep Suparman, mengatakan, literasi di era modern tidak hanya terbatas pada baca dan tulis, tetapi juga mencakup literasi budaya dan digital.
Inisiatif ini meliputi Penyediaan Ruang Serbaguna (Aula) atau ruang pertemuan yang dapat digunakan untuk workshop, diskusi buku, bedah buku atau pelatihan keterampilan.
Kemudian sebagai Wadah Ekspresi Budaya dan Musik yang mendukung pagelaran seni lokal sebagai bentuk literasi kebudayaan agar generasi muda tetap mengenal akar tradisinya.
“Dengan dibukanya akses fasilitas ini, diharapkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Cianjur dapat terus meningkat. Partisipasi aktif dari berbagai komunitas diharapkan mampu menghidupkan suasana perpustakaan menjadi lebih dinamis dan tidak kaku,” papar Asep dalam keterangan tertulisnya, Rabu 11 Maret 2026.
Lebih lanjut Asep menjelaskan, Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Cianjur tengah mempersiapkan kegiatan berupa Pameran Digital Sejarah dan Cagar Budaya pada Tahun 2026.
“Fokus utama dalam pameran ini adalah mengangkat Bumi Ageung, bangunan ikonik yang memiliki nilai historis mendalam bagi perjalanan Kabupaten Cianjur,” katanya.
Dia mengatakan, melalui teknologi digital, pengunjung nantinya dapat mengeksplorasi latar belakang sejarah Bumi Ageung secara interaktif.
“Langkah ini merupakan bentuk nyata adaptasi perpustakaan dalam melestarikan warisan leluhur melalui media modern yang mudah diakses oleh generasi Z dan milenial,” tegas Asep.












