Waduk Jangari Terkepung Eceng Gondok dan Tumpukan Sampah

Hamparan eceng gondok yang semakin meluas di kawasan Waduk Jangari, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Senin 22 Juni 2026.(Foto: Dok. Kompepar Jangari)

CIANJUREKSPRES.ID – Hamparan eceng gondok yang semakin meluas di kawasan Waduk Jangari, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, mulai mengganggu aktivitas wisata dan budidaya ikan air tawar. Selain menutupi sebagian permukaan waduk, tanaman tersebut juga menjadi perangkap sampah yang terbawa arus dari wilayah hulu.

Kondisi tersebut terlihat di sejumlah titik perairan Waduk Jangari yang merupakan bagian dari hamparan Waduk Cirata. Tumpukan eceng gondok bercampur sampah plastik dan limbah rumah tangga tampak mengapung hingga menutupi jalur perahu warga.

Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Jangari, Hendra Hendrawan, mengatakan, pertumbuhan eceng gondok saat ini terjadi hampir di seluruh kawasan waduk, mulai dari wilayah Mande hingga Ciranjang.

Menurutnya, area yang paling terdampak berada di sekitar dermaga utama Jangari dan kawasan Calincing, Kecamatan Ciranjang.

“Eceng gondok tumbuh cukup masif. Yang paling terlihat ada di sekitar dermaga utama Jangari dan kawasan Calincing. Hampir seluruh kawasan waduk terdampak,” katanya, Senin 22 Juni 2026.

Hendra menjelaskan, pertumbuhan eceng gondok berlangsung sepanjang tahun dan tidak dipengaruhi musim. Baik saat musim hujan maupun kemarau, tanaman tersebut tetap berkembang dengan cepat.

Akibatnya, sampah yang terbawa aliran sungai dari daerah hulu mudah tersangkut dan menumpuk di antara hamparan eceng gondok.

“Selain eceng gondok yang terus bertambah, sampah dari hulu juga ikut menumpuk karena terjebak di sela-sela tanaman tersebut. Akhirnya kondisi waduk terlihat kumuh,” ujarnya.

Hendra menilai kondisi itu mulai berdampak terhadap sektor wisata. Pemandangan waduk yang sebelumnya menjadi daya tarik wisatawan kini berkurang akibat permukaan air yang dipenuhi gulma dan sampah.

Tak hanya itu, aktivitas budidaya ikan di keramba jaring apung juga ikut terganggu. Perahu pengangkut pakan maupun hasil panen kesulitan melintas karena terhalang eceng gondok yang menutupi jalur perairan.

“Kalau dibiarkan terus, dampaknya bukan hanya ke wisata. Budidaya ikan juga terancam karena eceng gondok bisa mengurangi kadar oksigen di air. Bahkan berpotensi memicu upwelling yang bisa menyebabkan kematian ikan secara massal,” kata Hendra.

Menurutnya, penanganan eceng gondok tidak cukup dilakukan sekali saja. Ia mendorong adanya pembersihan secara rutin dan berkelanjutan agar pertumbuhan tanaman tersebut dapat dikendalikan.

“Harus ada pembersihan berkala. Kalau hanya sesekali dibersihkan, eceng gondok akan tumbuh lagi dengan cepat. Penanganannya harus rutin supaya kondisi waduk tetap terjaga,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *