CIANJUREKSPRES.ID – Polres Cianjur mengamankan seorang pria berinisial DS (43) yang merupakan pengelola arisan paket Lebaran di Kabupaten Cianjur, Rabu 18 Maret 2026.
Kapolres Cianjur, AKBP A. Alexander Yurikho Hadi, mengatakan, DS saat ini telah dibawa ke Mapolres Cianjur untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Yang bersangkutan sudah kami amankan dan saat ini sedang dimintai keterangan. Statusnya masih terlapor, dan kami masih melakukan penyelidikan untuk menentukan penetapan tersangka,” katanya.
Dia menyebutkan, sejauh ini sudah ada satu laporan resmi yang masuk ke pihak kepolisian. Laporan tersebut diajukan oleh salah satu korban yang mewakili peserta lainnya.
“Sudah ada laporan resmi dari korban. Diduga jumlah korban mencapai ratusan orang, berasal dari dua kecamatan,” katanya.
Kapolres mengatakan, kasus ini menjadi perhatian serius kepolisian, mengingat banyak peserta arisan yang dirugikan. Terutama karena paket Lebaran yang dijanjikan tidak kunjung diterima menjelang Hari Raya.
“Ini tentu menjadi atensi kami. Namun prosesnya membutuhkan waktu karena jumlah korban cukup banyak dan perlu dilakukan pendataan untuk mengetahui total kerugian,” katanya.
Dari hasil penyelidikan sementara, Polisi menduga usaha arisan tersebut telah berjalan selama bertahun-tahun dengan sistem yang tidak sehat secara keuangan.
“Dari hasil sementara, yang bersangkutan menjalankan arisan sejak lama dengan pola gali lubang tutup lubang. Karena tidak ada pemasukan, paket Lebaran tahun ini tidak bisa direalisasikan,” jelas Kapolres.
Selain itu, polisi juga menemukan adanya dugaan utang yang cukup besar.
“Kami juga mendapatkan informasi bahwa yang bersangkutan memiliki utang lebih dari Rp1 miliar, sehingga tidak memungkinkan untuk menutupi kerugian korban dari aset yang dimiliki,” katanya.
Diketahui sebelumnya, ratusan warga mendatangi rumah DS di Kampung Cijati, Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku. Mereka menuntut kejelasan terkait paket sembako yang dijanjikan dalam program arisan Lebaran.
Para peserta yang berasal dari sejumlah wilayah, seperti Cilaku dan Cibeber, datang secara berkelompok menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Setibanya di lokasi, mereka langsung meminta pertanggungjawaban.
Beruntung, aparat kepolisian segera datang dan mengamankan situasi sehingga tidak terjadi aksi anarkis.
Salah seorang peserta arisan, Papat Fatimah, mengaku telah mengikuti program tersebut selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun ini, dia mengambil paket senilai Rp2,2 juta.
“Sudah dua kali saya tanyakan. Awalnya dijanjikan tanggal 28, lalu berubah jadi H-3 Lebaran. Tapi saat didatangi bersama peserta lain, malah dibilang uangnya tidak ada,” katanya.












