CIANJUREKSPRES.ID – Di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, terdapat satu destinasi wisata alam yang menawarkan pemandangan sekaligus petualangan dengan harga yang nyaman di kantong. Tapi, tak banyak yang tahu.
Air terjun atau Curug Cimenteng yang berada di Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber menyimpan potensi pariwisata yang besar bagi Kabupaten Cianjur.
Layaknya permata tersembunyi (hidden gem), Curug Cimenteng kini belum terlalu terekspose seperti Curug Citambur di Kecamatan Pasirkuda, dan Curug Ngebul di Kecamatan Pagelaran.
Berjarak sekitar 19 kilometer dari pusat kota Cianjur, para pelancong cukup mencari titik Warung Bedeng di Bukit Trawangan di Google Maps.
Akses jalan yang baik, ditambah pemandangan yang ciamik dari landscape perbukitan dan pohon cemara menjelang lokasi Warung Bedeng, memanjakan mata. Cocok bagi yang hobi riding.
Sesampainya di Warung Bedeng, para pemuda Karang Taruna Desa Cibadak menyambut kami dan menggantungkan karcis parkir pada kendaraan. Bayarnya, seikhlasnya.
Lokasinya teduh, terdapat beberapa gazebo yang bisa jadi tempat beristirahat dengan pemandangan Curug Cimenteng yang mengintip dari balik hutan dan persawahan yang tampak dari ketinggian.
Warung Bedeng sendiri menyediakan makanan dan minuman yang umumnya dijual di tempat wisata, mi instan, bala-bala, pisang goreng, cilok bumbu kacang dan sebagainya.
Harganya pun murah, mi instan dalam kemasan dihargai Rp10.000, minuman mulai Rp5.000, gorengan pun hanya Rp1.000.
Kami menghabiskan Rp17.000 untuk membayar 1 mi instan, 1 gelas plastik minuman blender, dan 2 potong pisang goreng hangat.
***
Tak lengkap rasanya jika hanya melihat Curug Cimenteng dari jauh, para pemuda yang ada pun menawarkan jasa guide, mengantar ke lokasi air terjun. Pun harganya murah meriah, hanya Rp30.000 per trip.
Curug Cimenteng hanya bisa diakses dengan berjalan kaki sekitar 2 kilometer dari Warung Bedeng. Sangat cocok bagi orang-orang yang suka tracking. Waktu tempuh, tergantung stamina.
“Kalau ga dijajap (diantar), kebanyakan pada nyasar. Dulu pernah ada, 3 pengunjung sampai jam 6 sore tak kunjung pulang, akhirnya dicari warga. Ketemunya di area hutan,” kata Ahmad (40), pemuda Karang Taruna Desa Cibadak, Sabtu 11 Juli 2026.
Kebetulan, Ahmad yang biasa dipanggil Kang Ohem itu kebagian jatah mengantar kami ke Curug Cimenteng. Kami tak ingin tersesat di hutan.
Bicara soal trek, ternyata di luar ekspektasi. Saat memulai perjalanan, yang terbayang di kepala hanya suasana di area curug. Kami belum paham seperti apa jalurnya. Hingga akhirnya, kami pun ‘dikasih paham’.
Sambil berjalan sedikit menuruni bukit menuju ‘pintu masuk’ trek ke curug, kami mengobrol dengan Kang Ohem. Kaki masih kuat, stamina masih segar. Belum ada keringat karena siang itu angin sejuk kerap berembus, meski matahari tak terhalang awan.
“Akhir pekan bisa sampai 150 orang (pengunjung) yang datang ke sini. Ada yang dari dalam kota (Cianjur), ada yang dari Bandung, Bogor,” katanya saat ditanya soal jumlah kunjungan wisatawan.
Menurut Kang Ohem, banyak pula komunitas-komunitas motor hingga mobil yang memilih tempat itu untuk menjajal trek ke curug atau sekadar ngopi dan makan-makan di gazebo.
Tak sadar kami sudah menempuh 100 meter pertama, jalan setapak menurun, di ujungnya sawah terhampar. Setelah meniti pematang sawah sekitar 5 menit, kami mulai memasuki hutan yang didominasi pohon jati.
Dari situ, jalannya lebih menukik, tanah kering berkerikil ditambah daun jati bercampur daun bambu kering, menambah licin pijakan kaki. Tak ayal insiden jatuh bangun pun terjadi, beberapa kali kami terjungkal, mengundang tawa kecil Kang Ohem yang berada beberapa meter di depan kami.
“Saya pernah 10 kali bolak-balik mengantar orang dalam sehari. Pas lagi rame. Jadi sudah biasa, mau jalannya basah atau kering. Pengunjung yang ke sini (curug) istilahnya mereka itu main (berwisata) sambil olahraga,” katanya.
Perjuangan menempuh trek menukik itu akhirnya selesai. Ternyata kami menuruni lembah menuju sungai. Tapi itu baru setengah jalan, karena setengahnya lagi kami disuguhi trek menanjak.
Sambil menapaki batu-batu sungai, Kang Ohem berkata kalau wisata Curug Cimenteng pantang dikunjungi pada Selasa dan Kamis. Meski kami tidak mendapatkan informasi lebih dalam mengenai pantangan itu.
“Pemuda juga ga bakal ada yang mau ngajajap kalau hari Selasa dan Kamis, dari dulu sudah begitu,” Kang Ohem menjelaskan.
Setengah perjalanan, stamina kami pun rasanya sisa setengah. Padahal perjalanan masih lumayan panjang, termasuk perjalanan pulang kami yang pastinya melewati trek yang sama.
Langkah dan napas kami mulai berat di trek menanjak. Kami jadi lebih sering berhenti hanya untuk mengambil napas sambil berusaha menghilangkan pening yang mulai terasa.
Alah bisa karena biasa, Kang Ohem tampak berjalan santai sambil menyilangkan tangannya ke belakang. Kami belum melihat Kang Ohem minum botol air mineral yang dia bawa sejak dari Warung Bedeng.
Menurutnya, mengantar pengunjung menempuh trek menuju Curug Cimenteng sudah dilakukan pemuda-pemuda sekitar lebih dari 3 tahun. Hal itu membuatnya terbiasa.
Sekitar 20 menit lebih kami berjalan melawan gravitasi, deburan air terjun pun mulai terdengar jelas. Dengan sisa stamina yang ada, akhirnya sampai juga kami di Curug Cimenteng.
Butuh 4.000 langkah lebih dari warung untuk mencapai curug. Setidaknya itu yang dicatat aplikasi penghitung langkah yang ada di smartphone kami.
Setibanya di sana, Kang Ohem menyebutkan, Curug Cimenteng berada di perbatasan antara Desa Cibadak dan Desa Salagedang. Sedangkan air terjunnya berasal dari anak sungai yang ada di Gombong, Kecamatan Campaka.
“Katanya dulu orang-orang Belanda sering main ke sini. Nah sekarang, karena libur sekolah, banyak anak-anak dari kampung sekitar,” katanya, sebelum akhirnya Kang Ohem kembali ke Warung Bedeng.
Memang di sana ramai anak-anak seusia murid SMP yang sedang menghabiskan sisa libur sekolahnya. Karena pada Senin, 13 Juli 2026, mereka harus bersekolah lagi.
Belasan anak itu tampak lincah melompati batu-batu besar di dasar Curug Cimenteng. Maklum, anak-anak itu masih bermukim di lingkungan Desa Cibadak yang sering datang ke curug.
Air dingin yang turun dari curug kami basuh ke wajah, meski cenderung airnya kecil karena musim kemarau. Angin sejuk pun akhirnya menyapu keringat kami, menghilangkan rasa lelah.
Takjub kami melihat Curug Cimenteng dari bawah, bukan hanya karena pemandangannya, tapi juga karena usaha yang kami tempuh, hasilnya tak mengecewakan.
Akses jalan memadai, pemandangan yang epik, makan dan minuman yang tak dipatok harga tinggi, jasa guide Rp30.000, serta pengalaman dari tracking yang aman, Curug Cimenteng rasanya layak dinobatkan sebagai permata yang masih tersembunyi.












