Seorang Siswi SD di Cianjur Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual

Ilustrasi kekerasan seksual.(pixabay)

CIANJUREKSPRES.ID – Seorang siswi sekolah dasar (SD) berusia 12 tahun di Kabupaten Cianjur, diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh dua terduga pelaku.

Kuasa Hukum keluarga korban, Iko Bambang Sukmara, SH, mengatakan, pihaknya telah menguatkan laporan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Cianjur, agar penanganan perkara dapat dilakukan secara maksimal.

“Saat ini kami menguatkan laporan polisi ke Unit PPA Polres Cianjur agar penanganannya berjalan optimal,” ujarnya, Jumat 3 April 2026.

Dia menambahkan, kondisi korban masih mengalami trauma. Korban kerap menangis saat berada di keramaian dan menunjukkan gejala depresi ketika sendiri.

“Korban masih trauma, kadang menangis saat mendengar banyak orang, dan saat sendiri juga terlihat depresi,” katanya.

Menurutnya, berdasarkan laporan, dugaan peristiwa terjadi lebih dari satu kali.

Pihak keluarga berharap proses hukum dapat berjalan dengan adil serta memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan korban.

“Harapan keluarga tentu keadilan. Korban juga membutuhkan penanganan khusus, termasuk terapi, melihat kondisi psikologisnya saat ini,” tegas Iko Bambang.

Sementara itu, orang tua korban menuturkan, anaknya menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan sebelum Ramadan 2026. Korban terlihat tampak murung, sering menangis, dan mengalami tekanan psikologis.

“Anak saya sempat menangis histeris dan terlihat sangat tertekan. Kami melihat ada perubahan yang tidak biasa,” ujarnya kepada wartawan.

Peristiwa tersebut terungkap setelah korban pulang ke rumah dalam kondisi terguncang, lalu menceritakan dugaan tindakan tidak pantas yang dialaminya. Dari keterangan yang dihimpun, terdapat dua terduga pelaku. Satu orang berusia dewasa dan satu orang masih berstatus anak (di bawah 18 tahun).

Keluarga menyebutkan, dugaan kejadian tersebut terjadi di beberapa lokasi berbeda. Namun, detail kronologi tidak diungkap secara rinci guna menjaga kondisi psikologis korban dan menghindari dampak lanjutan.

Akibat kejadian itu, korban mengalami trauma mendalam. Dia menjadi lebih tertutup, mudah merasa takut, bahkan sempat menyalahkan dirinya sendiri.

“Kami sangat khawatir dengan kondisi mental anak kami. Saat ini yang utama adalah pemulihan dirinya,” ujar orangtua korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *