Nestapa Pendidikan di Tengah Kepungan Budaya Remang-Remang

Oleh: Sally Badriya Hisniati, M.Pd. (Akademisi, Penggiat Sosial, Dosen Universitas Pelita Bangsa)

Di balik deru mesin truk yang tak pernah tidur, terselip cerita pilu tentang anak-anak pesisir yang kehilangan hak atas masa depan. Di sini, pendidikan sering kali harus kalah telak oleh tarikan ekonomi instan dan normalisasi budaya “remang-remang”.

 

 

Jalur Pantura (Pantai Utara) Jawa telah lama dikenal sebagai jalur ekonomi yang menjanjikan. Namun, gemerlap ekonomi ini membawa sisi gelap yang kronis salah satunya menyoroti mengenai eksploitasi anak. Wilayah penyangga jalur ini masih menjadi “zona merah” bagi perlindungan anak, di mana pendidikan sering kali dianggap sebagai distraksi bagi pencari rupiah.

 

Budaya remang dan normalisasi eksploitasi, merupakan polemik yang paling mengkhawatirkan. Lebih jauh ketika eksploitasi tersebut terindikasi kearah ranah kesusilaan anak dibalut dengan dalih membantu ekonomi keluarga. Berdasarkan laporan KPAI tahun 2025, Jawa Barat menempati urutan tertinggi dalam jumlah korban kekerasan anak dengan 4.877 kasus, disusul Jawa Tengah dengan 1.961 kasus. Banyak dari kasus ini terjadi di sepanjang koridor ekonomi Pantura, di mana modus operandi “pemandu lagu” (LC) atau pelayan warung menjadi pintu masuk eksploitasi yang lebih dalam.

 

Terdapat potret yang cukup menyayat hati Ketika sekolah sering ditinggalkan bukan karena dianggap tidak penting, tetapi karena kalah bersaing dengan kebutuhan hidup yang lebih mendesak. Di banyak wilayah pesisir, tekanan ekonomi membuat anak-anak lebih cepat masuk ke dunia kerja informal untuk membantu keluarga. Penghasilan harian, meski kecil, terasa lebih nyata dibandingkan manfaat pendidikan yang bersifat jangka panjang.

 

Sekolah kerap belum sepenuhnya relevan dengan kondisi local, materi yang terlalu umum dan minim keterampilan praktis membuat sebagian siswa tidak melihat hubungan langsung antara sekolah dan peluang hidup mereka. Ketika lingkungan sekitar juga menormalisasi pilihan bekerja sejak dini, daya tarik sekolah semakin melemah. Keterbatasan fasilitas, kualitas pembelajaran yang belum merata, serta kurangnya pendampingan bagi anak rentan turut mempercepat keputusan

 

untuk keluar dari sekolah. Akibatnya, pendidikan perlahan ditinggalkan karena tidak cukup mampu menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi sehari-hari.

 

 

Pertanyaan krusialnya adalah, Mengapa Sekolah Kalah?

 

Faktor utama putus sekolah di wilayah pesisir bukan lagi sekadar ketiadaan fasilitas, melainkan distraksi nilai sosiokultural. Anak-anak di pesisir Pantura tumbuh dengan pemandangan uang harian yang “mudah” didapat dari warung remang-remang atau menjadi tenaga bantu di pangkalan truk. Terdapat tiga alasan utama anak meninggalkan bangku sekolah, pertama, faktor ekonomi, biasanya terdapat tekanan finansial keluarga nelayan dan buruh pangkalan. Yang kedua

 

kurangnya dukungan orang tua, andangan bahwa pendidikan formal tidak memberikan hasil instan. Yang ke tiga lingkungan patologis, kehadiran tempat hiburan malam di lingkungan tempat tinggal yang menormalisasi gaya hidup dewasa pada anak di bawah umur.

 

Mengatasi polemik ini  penulis mensinyalir diperlukan lebih dari sekadar bantuan sosial secara nyata, namun tindakan tegas dan terukur. Hanya saja tebtunya akan sangat sulit selama roda-roda truk di Pantura masih berputar di atas impian anak-anak yang tergilas, selama itu pula kita gagal memenuhi amanat konstitusi. Pendidikan di Pantura butuh lebih dari sekadar ijazah, namun butuh keberanian kolektif untuk mematikan lampu remang-remang yang menyesatkan langkah generasi muda kita. Harapan kita semua tentunya jangan biarkan gemerlap semu jalan raya menghapus binar di mata anak-anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *