CIANJUREKSPRES.ID- Dunia pendidikan di Kabupaten Sukabumi menghadapi tantangan serius terkait kasus pelecehan seksual dan kenakalan remaja di lingkungan sekolah. Persoalan ini tidak hanya berdampak pada peserta didik, tetapi juga menyasar masyarakat kecil yang kerap menjadi korban dan mengalami kesulitan dalam memperoleh keadilan.
Dalam sejumlah kasus, korban dan keluarga mengaku menghadapi intimidasi ketika hendak melapor. Tekanan tidak jarang datang dari pelaku maupun lingkungan sekitar yang lebih mengutamakan menjaga nama baik kampung atau institusi daripada menyelesaikan persoalan secara hukum. Kondisi ini menyebabkan banyak kasus berhenti di tengah jalan dan korban kehilangan hak atas perlindungan dan keadilan.
Menanggapi situasi tersebut, Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Sukabumi di bawah kepemimpinan Kang Fatah menyatakan keprihatinan mendalam sekaligus komitmen untuk berpihak kepada korban. Organisasi ini menilai bahwa masyarakat kecil membutuhkan naungan hukum yang jelas dan berani agar tidak lagi takut melaporkan tindak kekerasan, khususnya pelecehan seksual.
Ketua Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Sukabumi, Kang Fatah, menegaskan bahwa keadilan tidak boleh dikalahkan oleh tekanan sosial. Pemuda Muslimin Indonesia menyatakan kesiapan memberikan pendampingan dan bantuan hukum untuk mengawal kasus-kasus tersebut hingga ke proses pengadilan, guna memastikan korban mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum yang semestinya.
Ke depan, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, satuan pendidikan, dan masyarakat sipil untuk menciptakan sistem perlindungan yang tegas. Sekolah dan lingkungan sosial harus menjadi ruang aman, bukan tempat lahirnya ketakutan, agar pendidikan benar-benar menghadirkan harapan bagi generasi masa depan.












