Kisah Pilu Mahasiswi di Cianjur: Ditinggalkan Orang Tua, Jual Gorengan Hidupi Adik, Kuliah Terhenti Gegara Dana KIP Tak Cair

Kisah Pilu Mahasiswi di Cianjur: Ditinggalkan Orang Tua, Jual Gorengan Hidupi Adik, Kuliah Terhenti Gegara Dana KIP Tak Cair
Zulfa Aulia (19), berjualan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Sayang, Kabupaten Cianjur, pada Kamis, 9 April 2026. (Foto: Akmal Esa Nugraha/Cianjur Ekspres)

CIANJUREKSPRES.ID – Di tengah keterbatasan ekonomi dan kehilangan sosok orang tua, seorang mahasiswi asal Cianjur Zulfa Aulia (19), harus menunda mimpinya menempuh pendidikan tinggi setelah bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang diharapkannya tidak kunjung diterima.

Di usia yang masih muda, dia harus memikul beban hidup yang tak ringan. Sehari-hari, dia berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan adiknya yang baru berusia 10 tahun.

Kisah hidupnya pun pilu. Ibunya meninggal dunia tiga tahun lalu, sedangkan ayah meninggalkan mereka karena keluarga barunya. Saat ini, dia tinggal bersama adiknya dan paman (Uwa).

“Keseharian saya berjualan risol, basreng dan lainnya, mulai jam 10 pagi sampai jam 8 maaem. Adik saya sekarang kelas 4 SD. Ibu meninggal dunia pada 2023, kalau ayah kandung sudah beristri lagi. Saya tinggal dengan Uwa yang kerja sebagai satpam, beliau juga yang membantu saya dan adik,” kata Zulfa, pada Minggu, 5 April 2026.

Tak sampai di situ, cita-citanya mengenyam pendidikan tingi demi memperbaiki nasib pun kandas setelah bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) tak kunjung cair. Tak mampu membayar biaya kuliah, membuatnya harus berhenti menimba ilmu.

Zulfa mengatakan, sebelumnya dia merupakan mahasiswi salah satu kampus di Cianjur dan terdaftar sebagai penerima bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kategori desil 1, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah atau miskin ekstrem.

“Awal kuliah, saya daftar di wabsite pemerintah, dinyatakan lolos KIP yang terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), masuk kategori desil 1. Saya memang ingin berkuliah di salah satu kampus swasta di Cianjur. Kampus pun telah mengetahui kalau saya terdaftar KIP,” katanya.

Dia mengaku sudah membayar pendaftaran terlebih dahulu dan sempat mengikuti kegiatan perkuliahan selama tiga bulan.

“Kemudian, saya membayar biaya pendaftaran dulu senilai Rp2 juta, tapi karena uang saya tidak cukup, saya cicil Rp500 ribu dahulu. Saya pun senang akhirnya bisa mengikuti perkuliahan, meski belum mengetahui apakah nantinya bantuan dana KIP akan cair atau tidak,” katanya.

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan dana KIP untuk mahasiswa yang lolos kualifikasi, yang kemudian disalurkan melalui pihak kampus untuk dialokasikan kepada penerima. Namun, dia mengaku tidak menerima dana tersebut dan dinyatakan tidak mendapatkan dana KIP, meskipun seluruh persyaratan dari tingkat desa, telah dinyatakan lengkap dan memenuhi ketentuan.

“Saya tahu, pemerintah mengeluarkan dana untuk kita mahasiswa yang kurang mampu. Kalau lolos, nanti pemerintah itu memberikan dana ke kampus terkait, setelah itu baru dialokasikan ke mahasiswa, tapi dana KIP saya tak cair-cair. Saya pun memastikan ke pemerintah desa soal syarat penerima dan semuanya sudah aman terpenuhi,” katanya.

Simpang siurnya status KIP tersebut bukan hanya dirasakan olehnya, melainkan puluhan siswa lain. Menurut sepengatahuannya, dari puluhan mahasiswa penerima KIP, hanya segelintirnya saja yang benar-benar menerimanya.

“Selama tiga bulan itu, kami terus menanyakan ke pihak kampus soal dana KIP kami. Akhirya, kami dikumpulkan dan diberitahu hanya delapan mahasiswa yang bisa menerima dana KIP. Saya dan puluhan mahasiswa lainnya tidak,” katanya.

Situasi semakin sulit ketika menjelang ujian akhir semester. Dia diminta membayar biaya kuliah sekitar Rp6 juta jika ingin mengikuti ujian dan melanjutkan perkuliahan.

“Menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Saya harus membayar Rp6 juta biaya kuliah saya untuk syarat mengikuti ujian. Saya kan uangnya darimana? Saya tidak mampu,” katanya.

Hal tersebut membuat Zulfa tidak memiliki pilihan selain menghentikan sementara pendidikannya. Dia mengaku tidak mampu memenuhi biaya tersebut dalam waktu singkat.

Selama ini, dia hanya berharap bisa kuliah dengan bantuan dana KIP saja.

“Akhirnya saya terpaksa keluar karena tidak mampu membayar uang sebesar itu dan karena dana KIP saya tidak cair,” katanya.

Meski begitu, Zulfa masih memeliki semangat dan harapan, suatu saat nanti bisa melanjutkan pendidikannya, keinginannya untuk kuliah tetap kuat.

“Masih pengin kuliah, masih pengin belajar. Demi memperbaiki nasib saya dan adik saya,” katanya.

Dia berharap ke depan bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, terutama jika kembali mendapatkan bantuan dana KIP.

“Kalau ada kesempatan dan dapat dana KIP lagi, pasti melanjutkan kuliah. Apalagi kalau memang masih punya peluang untuk masuk kampus saya ini, saya ingin kembali berkuliah di sana,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *