CIANJUREKSPRES.ID – Puluhan relawan yang sebelumnya berjibaku menangani kebakaran di sekitar Kawah Wadon Gunung Gede memilih turun gunung karena diduga kecewa dengan sikap Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP).
Keputusan tersebut diambil setelah para relawan mengaku kecewa terhadap penanganan kebakaran serta minimnya dukungan dari BBTNGGP.
Salah seorang relawan, Niko Rastagil, mengatakan, selama beberapa hari berada di kawasan Gunung Gede, relawan secara mandiri melakukan upaya pemadaman menggunakan peralatan dan logistik yang tersedia.
“Tidak ada support untuk relawan, dalam bentuk apapun,” kata Niko, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurutnya, kekecewaan semakin muncul setelah adanya pernyataan dari pihak BBTNGGP yang menyebut kondisi kebakaran di kawasan Kawah Wadon telah kondusif. Padahal, relawan masih menemukan diduga bara dan kepulan asap di sejumlah titik.
“Banyak pernyataan dan tanggapan dari petugas balai yang memperlambat para relawan melakukan penanganan. Termasuk terkait kebakaran sudah kondusif, padahal kami kemarin masih terus berusaha memadamkan api,” kata Niko.
Dia menyebut kondisi tersebut juga berdampak terhadap mobilisasi relawan dan pengiriman bantuan logistik menuju lokasi kebakaran. Menurutnya, pada awal penanganan, relawan sempat diminta menunggu karena adanya agenda rapat secara daring maupun luring dari pihak balai.
“Karena pernyataan sudah kondusif, mobilisasi relawan tersendat karena berpikir sudah padam. Nyatanya belum. Kemudian ketika awal kebakaran, saat kami ingin menurunkan tim atau bantuan logistik, selalu ditahan dengan dalih menunggu zoom meeting atau meeting langsung,” ujarnya.
Dia menyebut sebelumnya terdapat sekitar 90 relawan yang berada di kawasan atas untuk membantu proses pemadaman. Namun jumlah tersebut terus berkurang hingga akhirnya seluruh relawan memilih turun.
“Dari 90 relawan yang ada di atas, kemarin tersisa 13 orang yang memang baru naik. Itu pun tidak di lokasi, tetapi memantau dari kawasan Kandang Badak. Per hari ini semuanya sudah turun,” katanya.
Meski relawan telah meninggalkan kawasan tersebut, Niko memastikan kondisi kebakaran belum sepenuhnya selesai. Dia menyebut api memang sudah tidak terlihat secara kasatmata, tetapi diduga masih terdapat potensi bara di balik rerumputan.
“Sudah 90 persen penanganan. Kalau api yang membakar sudah tidak terlihat, tetapi kemungkinan masih ada bara api di balik rerumputan,” ucap Niko.
Dia pun menyerahkan penanganan selanjutnya kepada pihak BBTNGGP. “Silakan dipadamkan oleh pihak balai jika memang merasa tidak memerlukan tenaga dari para relawan,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan siaran pers BBTNGGP, Kepala Balai Besar TNGGP Sadtara Noor, menjelaskan proses pemantauan terhadap kawasan yang terdampak kebakaran masih dilakukan.
Dalam siaran pers tersebut disebutkan masih ditemukan empat kepulan asap dan satu titik bara api di bagian timur Kawah Wadon.
Namun, titik tersebut berada di kawasan yang cukup terisolasi sehingga potensi api menjalar dinilai relatif kecil.
Tetapi, BBTNGGP juga menyampaikan apresiasi kepada warga, relawan, serta petugas lintas instansi yang telah terlibat dalam penanganan kebakaran.
“Kolaborasi dan kepedulian seluruh pihak menjadi bagian penting dalam upaya bersama menjaga kawasan konservasi TNGGP,” tulis kepala balai dalam siaran pers.
Hingga berita ini ditulis, tim Cianjur Ekspres sudah menghubungi pihak BBTNGGP untuk meminta tanggapan terkait keputusan para relawan yang memilih turun gunung karena mengaku kecewa terhadap penanganan kebakaran. Namun, pihaknya belum memberikan statement mengenai hal tersebut.












