Bupati Wahyu Ingin Hidupkan Kembali Kejayaan Cianjur Lewat Kesadaran Kolektif Masyarakat

Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian. (Foto: Cianjur Ekspres/Akmal Esa Nugraha)

CIANJUREKSPRES.ID – Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian menyatakan keinginannya untuk mengembalikan kejayaan Cianjur, meski mengakui status sebagai ibu kota bukan merupakan kewenangan pemerintah daerah.

Diketahui, Cianjur pernah menjadi pusat pemerintah sekaligus ibu kota Parahyangan atau Keresidenan Priangan pada masa pemerintahan VOC sampai Hindia Belanda. Sejak 1677, Cianjur memegang peran penting sebagai pusat administrasi di wilayah Tatar Sunda sebelum kedudukannya dipindahkan ke Bandung pada pertengahan abad ke-19.

Penetapan Cianjur sebagai ibu kota Keresidenan Priangan tidak terlepas dari peran Bupati Aria Wiratanu Datar III yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan Cianjur. Saat itu, Keresidenan Priangan membawahi sejumlah kabupaten di Jawa Barat, di antaranya Bandung, Sumedang, dan Garut.

Namun, status tersebut tidak bertahan lama karena pemerintah kolonial Belanda kemudian memindahkan pusat pemerintahan Keresidenan Priangan ke Bandung secara bertahap sekitar tahun 1856 hingga 1864. Pemindahan itu dilakukan setelah wilayah Cianjur beberapa kali dilanda gempa bumi besar yang dinilai memengaruhi efektivitas penyelenggaraan pemerintahan pada masa itu.

Pada kala itu, pasalnya Cianjur sudah menjadi sebuah kota yang ideal untuk ditinggali pendatang dari Eropa. Sayangnya, kota beriklim sejuk itu kerap dihampiri bencana alam. Padahal komunitas orang Eropa yang sudah tinggal di sana sudah merasa betah atau nyaman. Bahkan mereka sudah berinvestasi dengan mendirikan rumah permanen serta membuka usaha di Cianjur yang sekarang sering disebut-sebut ‘Kota Santri’.

Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Fedian, mengatakan, yang menjadi fokus pemerintah saat ini bukan mengembalikan status Cianjur, melainkan membangun kembali semangat dan kejayaan daerah melalui keterlibatan seluruh masyarakat.

“Ya, kalau menjadikan ibu kota lagi ya itu bukan kewenangan kami. Tapi yang jelas kita ingin mengembalikan lagi kejayaan Cianjur,” katanya, pada, Minggu 12 Juli 2026.

Menurutnya, kebangkitan Cianjur harus diawali dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat daerah tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga dan dibangun.

“Termasuk juga membangun kesadaran kembali kepada masyarakat Cianjur, bahwa Cianjur ini milik kita bersama. Harus kita jaga bersama, kita bangun bersama,” kata Wahyu.

Dia menilai perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti kepedulian terhadap diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar. Wahyu juga meyakini apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran kolektif untuk berkontribusi membangun daerah, maka Cianjur berpeluang kembali menjadi daerah yang maju seperti yang pernah tercatat dalam sejarah.

“Apabila semua masyarakat Cianjur memiliki kesadaran tersebut, memiliki kesadaran kolektif, kita bisa membangun peradaban kejayaan yang dulu pernah kita rasakan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *