CIANJUREKSPRES.ID – Ada masa di mana kita percaya bahwa sebuah pohon beringin adalah penanda keabadian. Di bawah akarnya yang gantung dan rindang daunnya, sejarah republik pernah berteduh—sekaligus berlindung dari angin puyuh politik yang tak berkesudahan.
Kini, ketika Partai Golkar menginjak usia ke-62 tahun, kita kembali mengeja sebuah slogan yang barangkali sudah terbiasa diucapkan tanpa getar di tenggorokan: “Golkar Bersama Rakyat, Karya Nyata, Rakyat Sejahtera.”
Apakah kalimat itu sekadar frasa yang tercetak pada kain rentang di pinggir jalan, ataukah sebuah amanat yang masih berdenyut dalam dada kita sebagai kader?
Mitos dan Kenyataan Sebuah “Karya”
Sejak kelahirannya, Golkar bukanlah doktrin yang lahir dari panggung retorika ideologi yang membakar. Ia adalah respon pragmatis terhadap zaman yang menuntut pembuktian. Ketika politik republik pernah terlalu bising oleh perdebatan normatif yang melelahkan, Golkar datang membawa narasi kekaryaan: teknokrasi, bendungan yang dibangun, panen raya, dan stabilitas yang ditata.
Namun, di situ pula letak kerapuhannya.
Ketika karya direduksi hanya menjadi angka statistik dan pembangunan fisik, kita acap lupa bahwa “rakyat” bukanlah sekadar objek pembangunan. Rakyat adalah subjek yang memiliki air mata, harapan, dan martabat. Karya tanpa keberpihakan yang berempati hanya akan menjadi monumen megah yang dingin.
“Karya nyata tidak pernah lahir dari ruang ber-AC yang kedap suara rakyat. Ia bertumbuh di tanah yang kering, di antara peluh petani, bisikan buruh, dan gelisah anak-anak muda yang mencari kepastian masa depan.”
Menjadi Beringin yang Bertumbuh, Bukan Menghimpit
Dua puluh lima tahun pasca-Reformasi, Golkar terbukti tangguh. Ia bukan pohon yang dengan mudah tumbang diguncang badai transisi. Kita belajar bertransformasi dari sekadar mesin kekuasaan menjadi laboratorium demokrasi. Namun, bertahan hidup saja tentu tidak cukup.
Sebagai kader yang mencintai pohon ini, kita harus berani bertanya dengan jujur: Apakah rindangnya beringin kita masih memberi keteduhan bagi mereka yang kepanasan, atau justru ketebalan daunnya menghalangi sinar matahari bagi tanaman-tanaman kecil di bawahnya?
Mencintai Golkar hari ini berarti berani bersikap kritis terhadap diri sendiri. Kita tidak boleh terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu atau sekadar kelihaian dalam kalkulasi taktis elektoral. Politik karya yang sesungguhnya adalah politik yang membebaskan:
* Bagaimana karya kita menghadirkan kesejahteraan yang merata, bukan penumpukan modal?
* Bagaimana teknokrasi kita berpihak pada mereka yang marginal?
Kembalinya Akar ke Tanah
Slogan “Golkar Bersama Rakyat” hanyalah kebohongan yang manis jika kita hanya menyapa rakyat lima tahun sekali saat bilik suara dibuka. Kebersamaan memerlukan kehadiran yang menetap, rasa lapar yang sama, dan keberanian untuk mendengarkan kritik yang paling pedas sekalipun.
Di usia ke-62 tahun ini, panggilan tertinggi seorang kader bukanlah mengejar kedudukan, melainkan merawat kepekaan.
Beringin ini hanya akan tetap berdiri kokoh bukan karena akarnya yang menjulang ke atas kekuasaan, melainkan karena akarnya merujuk jauh ke dalam tanah—menyelami duka dan cita rakyat Indonesia.
Di situlah, dan hanya di situlah, Karya Nyata menemukan jiwanya, dan Rakyat Sejahtera tak lagi menjadi sekadar bayang-bayang di ujung mimpi.
Selamat ulang tahun Partai Golkar. Mari terus berkarya, dengan nurani yang tetap menyala.(*)
Penulis:
Asep Adang Kurnia
(Kader Partai Golkar)












