CIANJUREKSPRES.ID – Ancaman rumah roboh menjadi bayang-bayang kehidupan Sidik (15), seorang anak yatim di Kampung Pasirwaru, RT 04/RW 06, Desa Sukalaharja, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Di tengah kondisi bangunan yang semakin lapuk dan tak layak huni, Sidik masih bertahan di rumah peninggalan ayahnya bersama segala keterbatasan yang harus dihadapi.
Rumah berdinding bilik dengan atap yang mulai rusak itu kini kondisinya semakin memprihatinkan. Sejumlah bagian bangunan terlihat rapuh, dinding berlubang, bahkan air hujan kerap masuk melalui celah atap. Kondisi tersebut membuat penghuni rumah dihantui kekhawatiran, terutama ketika hujan deras disertai angin melanda wilayah tersebut.
Sidik tidak sendiri. Dia memiliki seorang kakak perempuan bernama Sani Sundari (18). Namun, sejak ayah mereka meninggal dunia pada 2023, keduanya harus menjalani kehidupan dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Sang ibu bekerja di luar daerah dan hanya sesekali mengirimkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah keterbatasan tersebut, bantuan dari tetangga dan warga sekitar menjadi salah satu penopang kehidupan mereka. Kepedulian warga pula yang selama ini membantu keduanya bertahan, meski persoalan tempat tinggal yang tidak aman belum kunjung terselesaikan.
Ai (31), salah seorang tetangga, mengungkapkan bahwa kondisi Sani dan Sidik semakin memprihatinkan sejak kehilangan ayah mereka. Selain harus menghadapi keterbatasan ekonomi, keduanya juga tinggal di rumah yang kondisinya terus mengalami kerusakan.
Menurutnya, kerusakan paling terlihat pada bagian atap dan dinding bilik yang sudah banyak berlubang. Ketika hujan turun, air masuk dari berbagai sisi sehingga membuat rumah tersebut semakin tidak nyaman untuk ditempati.
“Memang miris kehidupan mereka. Apalagi sejak orangtuanya tidak ada, kondisi rumah terlihat seperti akan roboh. Atapnya sudah rusak, biliknya juga banyak yang bolong. Kalau hujan, bocor di mana-mana,” ujarnya kepada wartawan, Selasa 29 September 2026.
Ai menuturkan, Sani beberapa pekan terakhir telah berangkat ke Jakarta untuk bekerja demi membantu memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu, Sidik masih tinggal seorang diri di rumah peninggalan orangtuanya.
Warga sebenarnya telah menawarkan tempat tinggal sementara kepada Sidik, baik di rumah saudara maupun tetangga. Namun, remaja tersebut terkadang memilih tetap berada di rumahnya sendiri. Hanya ketika hujan turun, ia biasanya mengungsi dan menginap di rumah temannya karena khawatir bangunan yang ditempatinya roboh.
“Sidik masih tinggal di rumah itu. Sudah ditawari tinggal di saudara atau tetangga, tapi kadang dia tidak mau. Kalau hujan, biasanya dia menginap di rumah kawannya,” tuturnya.
Kondisi tersebut mengundang keprihatinan warga yang berharap adanya perhatian dari pemerintah. Mereka menilai, kerusakan rumah yang semakin parah perlu segera ditangani agar tidak menimbulkan risiko keselamatan bagi Sidik, terlebih ia masih berusia remaja dan membutuhkan lingkungan tempat tinggal yang aman.
Harapan serupa disampaikan Ipan (31), saudara Sani dan Sidik. Dia mengaku persoalan rumah tersebut sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan kepada pengurus lingkungan setempat. Namun, hingga kini belum ada bantuan perbaikan yang diterima, sementara kondisi bangunan terus memburuk.
“Sudah ke RT dan RW, tapi bertahun-tahun belum ada bantuan untuk rumahnya. Kondisinya sekarang sudah semakin parah, bahkan sudah hampir roboh dan belum ada tindakan,” kata Ipan.
Karena belum mendapatkan solusi, Ipan berinisiatif mengunggah kondisi rumah tersebut melalui media sosial. Langkah itu dilakukan dengan harapan informasi mengenai kondisi kedua anak yatim tersebut dapat menjangkau lebih banyak pihak dan menggugah kepedulian masyarakat maupun pemerintah untuk memberikan bantuan.
Rumah yang kini ditempati Sidik merupakan peninggalan almarhum ayahnya sekaligus rumah keluarga yang sebelumnya dihuni sang nenek. Meski memiliki ikatan emosional dengan tempat tinggal tersebut, kondisi bangunan yang semakin rapuh membuat keberadaannya justru menjadi sumber kekhawatiran bagi keluarga.
Ipan yang kini menetap di Sukabumi setelah menikah mengaku sebenarnya ingin membawa Sidik tinggal bersamanya. Namun, pendidikan Sidik yang belum selesai menjadi pertimbangan sehingga untuk sementara dia masih harus tinggal di Cibeber.
“Saya sudah mengajak Sidik tinggal di Sukabumi. Tapi sekolahnya belum selesai. Jadi untuk sementara dia masih di sana,” ujarnya.
Ipan mengaku semakin khawatir melihat kondisi rumah yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan adiknya, terutama saat cuaca buruk. Dia berharap, pemerintah segera turun tangan untuk memastikan Sidik mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
“Intinya kami ingin ada perhatian dari pemerintah terkait kondisi mereka. Rumahnya sudah tidak layak, apalagi kalau hujan dan angin. Kami takut rumah itu roboh,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Sidik masih berusaha menjalani kesehariannya dan melanjutkan pendidikan di rumah yang semakin rapuh. Sementara kakaknya berjuang mencari penghasilan di Jakarta dan sang ibu bekerja jauh dari keluarga.
Bagi mereka, bantuan yang diharapkan bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak, melainkan menghadirkan rasa aman untuk menjalani kehidupan. Sebab, rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung kini justru menyisakan kecemasan setiap kali hujan turun












