CIANJUREKSPRES.ID – Masjid Istiqlal menggelar Takbir Akbar Nasional pada malam Iduladha 1447 H. Acara ini mengusung tema “Meneguhkan Spirit Kurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan”.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa sejarah panjang kurban memiliki makna yang sangat dalam untuk diteladani. Menurut Menag, perintah menyembelih hewan kurban mengandung pesan penting untuk menyelamatkan kemanusiaan.
“Pisau tidak bisa menggorok Nabi Ismail sebagai bukti bahwa Allah yang berkehendak. Lalu, kenapa kita diminta merayakan penyembelihan binatang ini adalah untuk menyelamatkan kemanusiaan,” kata Menag Nasaruddin Umar, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa 26 Mei 2026.
Menurutnya, mengorbankan manusia terjadi pada tradisi kuno. Di Mesir misalnya, setiap tahun dilempar gadis cantik ke Sungai Nil. Di India, istri dikuburkan hidup-hidup saat suaminya meninggal. Di China, Dinasti Thang, budak dipersembahkan tiap tahun.
Menag menjelaskan bahwa tradisi semacam itu hilang setelah adanya peristiwa kurban Nabi Ismail. “Jangan pernah ada yang melakukan tradisi-tradisi dulu seperti itu. Kurban digantikan dengan hewan yang bisa dikonsumsi oleh umat,” terangnya.
“Kurban artinya mendekatkan. Kurban adalah bentuk pengorbanan manusia yang digantikan dengan hewan. Iduladha yang tak hanya sarat nilai spiritual, tapi juga pesan sosial untuk merawat kemanusiaan dan memperkuat karakter bangsa,” tandas Menag.
Mewakili Menko PMK, Staf Ahli Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Kemaritiman Kemenko PMK, R. Budiono Subambang, menyampaikan bahwa momentum Iduladha bukan sekadar ritual. Hal ini menjadi pilar penting dalam pengembangan manusia yang berkeadaban dan penguatan karakter SDM. Bahkan momentum idul adha juga menjadi aksi kemanusiaan untuk mencetak anak bangsa yang berkarakter.
“Iduladha harus dimaknai sebagai penguatan jati diri bangsa. Mari perkuat toleransi, rajut harmonisasi untuk mewujudkan masyarakat madani. Semoga jemaah haji Indonesia diberi kesehatan hingga kembali ke tanah air,” terang Budiono.












