CIANJUREKSPRES.ID- Amerika Serikat menilai Rusia memberikan informasi intelijen kepada Iran yang digunakan untuk menargetkan pasukan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Informasi tersebut mencakup lokasi kapal perang dan pesawat militer Amerika, menurut sejumlah pejabat yang mengetahui laporan intelijen tersebut.
Bantuan ini menjadi indikasi awal bahwa konflik yang berkembang di kawasan tersebut mulai melibatkan kekuatan besar dunia secara tidak langsung.
Sejak pecahnya perang pada akhir pekan lalu, Rusia disebut telah menyampaikan posisi sejumlah aset militer AS kepada Iran.
Para pejabat yang berbicara secara anonim menyebut upaya tersebut tampak dilakukan secara cukup luas dan terorganisasi. Namun pihak Kremlin belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menolak berkomentar ketika dimintai konfirmasi mengenai temuan intelijen tersebut. Pemerintah Rusia sebelumnya menyatakan bahwa konflik tersebut merupakan tindakan agresi bersenjata yang tidak dapat dibenarkan dan menyerukan penghentian perang.
Ketegangan di kawasan semakin meningkat setelah serangan drone Iran di Kuwait menewaskan enam tentara Amerika dan melukai beberapa lainnya. Iran juga dilaporkan meluncurkan ribuan drone serangan satu arah serta ratusan rudal yang menargetkan posisi militer AS, kedutaan, dan beberapa area sipil.
Di sisi lain, operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel telah menghantam lebih dari dua ribu target militer Iran, termasuk lokasi rudal balistik, aset angkatan laut, dan beberapa fasilitas strategis lainnya.
Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa kemampuan militer Iran terus melemah akibat serangan tersebut. Gedung Putih menyebut armada laut Iran mengalami kerusakan besar, sementara kapasitas produksinya juga mengalami penurunan signifikan.
Sementara itu, badan intelijen AS seperti CIA dan Departemen Pertahanan belum memberikan komentar resmi terkait laporan keterlibatan Rusia.
Dalam perkembangan lain, pejabat AS menyebut China tidak terlihat memberikan bantuan militer langsung kepada Iran meskipun kedua negara memiliki hubungan yang erat. Kedutaan Besar China di Washington hanya menegaskan bahwa pihaknya mendorong upaya diplomatik untuk menghentikan konflik.
Sejumlah analis menilai tingkat akurasi serangan Iran menunjukkan adanya dukungan intelijen yang kuat. Serangan tersebut diketahui menargetkan fasilitas penting seperti radar peringatan dini, pusat komando militer, serta infrastruktur pertahanan lainnya.
Iran sendiri memiliki kemampuan satelit militer yang terbatas. Karena itu, akses terhadap data satelit dari Rusia yang memiliki teknologi ruang angkasa lebih maju dinilai sangat membantu dalam menentukan target secara lebih presisi.
Selain itu, serangan Iran juga dinilai semakin canggih dibandingkan konflik sebelumnya dengan Israel. Beberapa serangan bahkan berhasil menembus sistem pertahanan udara milik Amerika Serikat dan sekutunya.
Sementara itu, Pentagon dilaporkan mulai mengurangi persediaan senjata presisi dan sistem pertahanan udara akibat intensitas konflik yang meningkat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan pertahanan jangka panjang jika konflik terus meluas.
Para analis menilai keterlibatan Rusia dalam memberikan dukungan intelijen juga berkaitan dengan dinamika geopolitik global, termasuk perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina. Selama konflik tersebut, Iran diketahui menjadi salah satu sekutu penting Rusia dengan menyediakan teknologi drone serangan.
Meski demikian, Rusia dinilai belum akan terlibat langsung secara militer dalam konflik Timur Tengah karena masih memprioritaskan perang di Ukraina.
Namun beberapa pengamat menyebut konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat memberikan keuntungan strategis bagi Rusia, seperti meningkatnya harga minyak dunia serta beralihnya perhatian Amerika dan Eropa dari perang di Ukraina.












