Ketegangan di Timur Tengah akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 berdampak besar terhadap sektor transportasi dan logistik global.
Serangan yang kemudian dibalas oleh Iran ke sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan tersebut membuat jalur distribusi internasional mengalami gangguan serius sejak 28 Februari hingga 1 Maret 2026.
Perusahaan logistik internasional, Scan Global Logistics, menyampaikan bahwa situasi keamanan yang belum stabil menyebabkan terhentinya berbagai aktivitas pengiriman, baik melalui udara, laut, maupun darat.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan di wilayah Timur Tengah, tetapi juga menjalar hingga jalur perdagangan Asia–Eropa.
Di sektor angkutan udara, hampir seluruh penerbangan di kawasan Timur Tengah dihentikan sementara. Sejumlah maskapai besar membatalkan penerbangan dan menutup pemesanan kargo. Emirates SkyCargo menangguhkan operasional hingga awal Maret 2026 dan membatasi penerimaan pengiriman baru. Sementara itu, KLM menghentikan penerbangan ke Dubai, Riyadh, dan Dammam, sedangkan Turkish Airlines juga membatalkan sejumlah rute ke Timur Tengah.
Akibat pembatasan wilayah udara, terjadi penumpukan kargo di berbagai bandara. Para pelaku usaha logistik memperkirakan, proses pemulihan akan memakan waktu berminggu-minggu setelah wilayah udara kembali dibuka. Banyak maskapai juga memberlakukan penghentian pemesanan hingga waktu yang belum ditentukan.
Gangguan juga terjadi pada jalur pengiriman laut. Sejumlah perusahaan pelayaran besar menghentikan pelayaran melalui Selat Hormuz, Bab el-Mandeb, dan Terusan Suez. Jalur-jalur tersebut merupakan rute utama perdagangan dunia, terutama untuk pengiriman minyak dan kontainer.
Pelabuhan Jebel Ali di Dubai yang dikelola oleh DP World sempat menghentikan operasional sebagai langkah pengamanan. Penutupan sementara tersebut menyebabkan keterlambatan kapal, kepadatan lapangan penumpukan, dan gangguan pemulihan layanan.
Selain itu, perusahaan pelayaran besar seperti MSC, Maersk, dan CMA CGM juga menghentikan sementara pemesanan dan pelayaran menuju kawasan Teluk Persia. Kebijakan ini berdampak pada keterlambatan jadwal kapal dan perubahan rute pelayaran.
Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia juga diperkirakan memicu kenaikan harga energi secara global. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak besar pada perekonomian internasional.
Sementara itu, pada sektor angkutan darat, aktivitas lintas batas masih berlangsung, meskipun mengalami perlambatan akibat peningkatan pemeriksaan keamanan. Beberapa pos perbatasan menerapkan pengawasan ketat sehingga waktu tempuh distribusi barang menjadi lebih lama. Jalur alternatif antara Uni Emirat Arab dan Oman melalui perlintasan Al Rawdah mulai dimanfaatkan untuk mengurangi kepadatan.
Scan Global Logistics menyampaikan bahwa kondisi ini berpotensi menimbulkan keterlambatan pengiriman dalam jangka pendek hingga menengah, baik untuk barang yang sedang dalam perjalanan maupun yang baru akan dikirim. Selain itu, sejumlah perusahaan pelayaran telah memberlakukan biaya tambahan risiko perang, yang diperkirakan akan menaikkan tarif pengiriman dalam waktu dekat.
Pihak perusahaan juga menegaskan bahwa keselamatan karyawan di kawasan Timur Tengah menjadi prioritas utama.
Berbagai rencana darurat telah disiapkan agar layanan kepada pelanggan tetap berjalan meskipun dalam kondisi terbatas.
Para pelaku usaha diimbau untuk mengonfirmasi pemesanan sebelum pengiriman, menambahkan waktu cadangan dalam jadwal distribusi, serta berkoordinasi dengan penyedia jasa logistik terkait kemungkinan penggunaan rute alternatif. Untuk pengiriman yang bersifat mendesak, perusahaan logistik membuka layanan konsultasi guna mencari solusi tercepat dan paling aman.
Hingga saat ini, perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah masih dinamis. Pemerhati industri menilai, stabilitas jalur perdagangan global sangat bergantung pada meredanya konflik di kawasan tersebut. Selama ketegangan belum mereda, gangguan distribusi dan kenaikan biaya logistik diperkirakan masih akan terus terjadi.












