CIANJUREKSPRES.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 1.196 titik panas atau hotspot di berbagai wilayah Indonesia pada 21 Oktober 2026. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah pengaruh El Niño sangat kuat dan potensi cuaca kering yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam Fact Sheet Monitoring dan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlaku pada 22–28 Oktober 2026, BMKG menyebutkan bahwa potensi karhutla masih perlu diwaspadai, terutama di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Berdasarkan hasil pemantauan pada 21 Oktober 2026 pukul 00.00–23.59 WIB, wilayah Kalimantan mencatat jumlah titik panas terbanyak, yakni 562 titik. Sebanyak 400 titik terdeteksi di Kalimantan Tengah, 83 titik di Kalimantan Barat, 64 titik di Kalimantan Selatan, dan 15 titik di Kalimantan Timur.
Sementara itu, di wilayah Sumatera terdeteksi 356 titik panas. Sebarannya meliputi Sumatera Selatan sebanyak 230 titik, Lampung 56 titik, Jambi 38 titik, serta Kepulauan Bangka Belitung 32 titik.
Di wilayah Papua dan Maluku, BMKG mencatat 198 titik panas, terdiri atas 149 titik di Papua Selatan, 28 titik di Papua Barat, 15 titik di Papua Pegunungan, dan enam titik di Maluku.
Adapun di wilayah Jawa dan Nusa Tenggara terdapat 37 titik panas, dengan rincian Jawa Timur 16 titik, Jawa Tengah enam titik, Jawa Barat tiga titik, Nusa Tenggara Timur tujuh titik, serta Nusa Tenggara Barat lima titik.
Di Sulawesi, terdeteksi 43 titik panas yang tersebar di Sulawesi Tengah sebanyak 17 titik, Sulawesi Utara 11 titik, Sulawesi Selatan sembilan titik, Sulawesi Barat empat titik, dan Sulawesi Tenggara dua titik.
El Niño Sangat Kuat Pengaruhi Kondisi Atmosfer
BMKG menjelaskan, hasil pemantauan dinamika atmosfer pada Dasarian I Oktober 2026 menunjukkan indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Agustus–September–Oktober mencapai +3,08. Nilai tersebut mengindikasikan kejadian El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Sementara itu, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 tercatat sebesar +3,33. Kondisi tersebut secara umum dapat mengurangi pasokan uap air menuju Indonesia sehingga mendukung terbentuknya kondisi yang lebih kering.
Analisis atmosfer juga menunjukkan kondisi yang secara umum kurang mendukung pembentukan awan hujan. Meski demikian, aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) terpantau aktif melintasi sebagian wilayah Aceh.
Untuk prakiraan sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia secara umum diprediksi cerah hingga cerah berawan. Potensi hujan ringan hingga sedang masih terdapat di sejumlah wilayah, termasuk Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta beberapa wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Adapun potensi hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara.
Asap Lintas Batas Terdeteksi
Selain titik panas, BMKG melaporkan adanya deteksi asap di sejumlah wilayah Indonesia, meliputi Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian besar wilayah Papua.
Asap lintas batas atau transboundary haze juga terpantau bergerak dari Sumatera menuju Semenanjung Malaysia dan Singapura. Selain itu, asap dari Kalimantan terpantau menuju Sarawak, Semenanjung Malaysia, dan Singapura, sedangkan asap dari Papua Nugini terdeteksi menuju Papua Selatan.
Sebaran asap secara umum bergerak ke arah barat hingga timur laut. Sementara itu, arah angin di Indonesia umumnya bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.
BMKG juga memantau perkembangan titik panas di tujuh provinsi prioritas penanganan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dalam tujuh hari terakhir, jumlah titik panas di Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur mengalami fluktuasi. Sementara itu, di Riau tidak terdeteksi titik panas selama periode pemantauan tersebut.
Potensi Karhutla Meluas di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan
Berdasarkan analisis Fire Weather Index (FWI) untuk periode 22–28 Oktober 2026, potensi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan berada pada rentang kategori rendah hingga sangat tinggi.
Di Sumatera, wilayah dengan potensi risiko tertinggi meliputi sebagian Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Di Pulau Jawa, potensi karhutla terdapat di sebagian besar wilayah dengan tingkat risiko yang bervariasi. Sementara di Kalimantan, risiko tertinggi diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Untuk mengantisipasi karhutla dan kekeringan, operasi modifikasi cuaca (OMC) dilaksanakan di sejumlah provinsi. Wilayah tersebut meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara di kawasan Danau Toba, Sulawesi Tengah di kawasan Danau Poso, DKI Jakarta, serta Papua Selatan.
Pelaksanaan operasi tersebut berlangsung pada periode yang berbeda, menyesuaikan kebutuhan penanganan karhutla, kekeringan, dan pengisian waduk di masing-masing wilayah.
BMKG Minta Sejumlah Wilayah Tingkatkan Kewaspadaan
BMKG merekomendasikan peningkatan kewaspadaan terhadap karhutla, terutama karena titik panas masih terpantau dalam jumlah cukup banyak di Sumatera bagian selatan, sebagian besar Kalimantan, serta beberapa wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Wilayah yang menjadi perhatian meliputi Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Kondisi atmosfer yang relatif kering dinilai dapat mendukung penyebaran api. Karena itu, pemantauan titik panas dan kondisi cuaca perlu terus dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan selama periode 22–28 Oktober 2026.
Sumber: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).












