CIANJUREKSPRES.ID – Dinas Peternakan, Kesehatan Hewan dan Perikanan (DPKHP) Kabupaten Cianjur mengaku belum menerima laporan terkait adanya ikan mati di Waduk Jangari yang diduga akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kabid Perikanan DPKHP Kabupaten Cianjur, Yusuf Tatang mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan mengenai kematian ikan di kawasan Waduk Jangari setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tersebar hingga wilayah Kabupaten Cianjur.
“Selama dua hari pascasebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, kami belum menerima laporan adanya ikan yang mati akibat abu vulkanik di kawasan Waduk Jangari,” ujarnya, Senin 7 September 2026.
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya meminta pembudidaya ikan yang berada di Waduk Jangari, dan kolam tanah, serta beton untuk melakukan beberapa upaya pencegahan.
“Upaya pencegahan yang dapat dilakukan petani ikan kolam tanah ialah dengan menguras air kolam secara rutin. Sedangkan bagi pembudiya ikan di Waduk Jangari agar memperhatikan pasokan pakannya,” katanya.
Yusuf mengungkapkan berdasarkan laporan yang diterima, ikan mati yang terjadi di Waduk Jangari lebih disebabkan oleh upwelling.
“Upwelling adalah fenomena alam di mana massa air dari dasar danau atau waduk yang dingin dan kaya nutrien bergerak naik ke permukaan. Akibat fenomena tersebut ikan terpapar racun dan mati,” jelasnya.
Dia menambahkan, fenomena upwelling tersebut sering terjadi ketika memasuki peralihan musim dari hujan ke kemarau serta sebaliknya.












